DPKH Kaltim Bina Peternak Produksi Pakan Awetan Hadapi Musim Kemarau

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim membina peternak untuk memproduksi pakan awetan guna mitigasi kelangkaan pakan saat kemarau panjang, sekaligus menekan biaya produksi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DPKH Kaltim Bina Peternak Produksi Pakan Awetan Hadapi Musim Kemarau
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim membina peternak untuk memproduksi pakan awetan guna mitigasi kelangkaan pakan saat kemarau panjang, sekaligus menekan biaya produksi. (AntaraNews)

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah proaktif dalam membina para peternak di wilayahnya. Pembinaan ini fokus pada produksi pakan awetan sebagai strategi mitigasi menghadapi potensi kelangkaan pakan selama musim kemarau panjang. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pakan ternak yang memadai dalam kondisi darurat.

Kepala DPKH Kaltim, Arief Murdiyatno, menjelaskan di Samarinda, Minggu (09/8), bahwa jenis pakan awetan yang diajarkan meliputi silase, hay, dan fermentasi jerami. Persiapan pakan cadangan ini dianggap sangat penting tidak hanya untuk musim kemarau, tetapi juga sebagai solusi saat peternak berhalangan atau untuk memanfaatkan surplus rumput segar agar tidak membusuk.

Langkah inovatif ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi peternak. Biaya pakan yang tinggi, mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi, menjadi beban signifikan yang ingin diatasi melalui produksi pakan awetan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pentingnya Pakan Awetan untuk Ketahanan Ternak

Produksi pakan awetan merupakan solusi strategis untuk mengatasi tantangan ketersediaan pakan, terutama saat musim kemarau panjang yang dapat menyebabkan kelangkaan rumput segar. Metode seperti silase, hay, dan fermentasi jerami memungkinkan peternak untuk menyimpan pakan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan kualitas gizi yang signifikan. Pakan awetan ini berfungsi sebagai cadangan darurat yang vital.

Arief Murdiyatno menegaskan bahwa pakan awetan memiliki multifungsi. “Pakan awetan ini tidak hanya berguna saat kemarau, tetapi juga berfungsi sebagai cadangan ketika peternak sedang sakit atau bepergian, sekaligus memanfaatkan surplus rumput segar agar tidak membusuk,” kata Arief. Ini menunjukkan nilai strategis pakan awetan bagi keberlangsungan usaha peternakan.

Inovasi dalam pengawetan pakan ini menjadi sangat krusial bagi kemandirian ekonomi peternak. Dengan biaya pakan yang mendominasi struktur pengeluaran hingga 60-70 persen dari total biaya produksi, kemampuan memproduksi pakan sendiri secara efisien dapat secara signifikan mengurangi beban finansial peternak dan meningkatkan profitabilitas usaha.

Pemanfaatan Biomassa dan Limbah Pertanian sebagai Sumber Pakan Alternatif

Selain mengawetkan rumput, DPKH Kaltim juga mendorong peternak untuk memanfaatkan biomassa dan limbah pertanian sebagai bahan baku pakan awetan. Limbah seperti sisa panen jagung dan padi memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pakan yang bernilai gizi tinggi, memberikan nilai tambah pada produk samping pertanian yang seringkali terbuang.

Bahkan, peternak juga diberi edukasi untuk memanfaatkan pelepah kelapa sawit yang dicacah halus menggunakan mesin chopper dan shredder. Proses ini bertujuan agar lidi pelepah hancur sepenuhnya sehingga aman bagi lambung ternak. Inisiatif ini membuka peluang baru dalam diversifikasi sumber pakan, terutama di wilayah yang memiliki perkebunan kelapa sawit yang melimpah.

Pemanfaatan limbah pertanian dan pelepah sawit tidak hanya mengurangi biaya pakan, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular. Dengan mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai, peternak dapat mengoptimalkan penggunaan lahan dan mengurangi dampak lingkungan, sekaligus menciptakan sistem produksi yang lebih berkelanjutan.

Pengawasan Kualitas dan Dukungan Infrastruktur Pakan

Untuk memastikan kualitas gizi pakan alternatif tersebut tetap terjamin, DPKH Kaltim turut mengerahkan 25 orang petugas Pengawas Mutu Pakan. Para petugas ini disebar secara merata di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, memastikan bahwa pakan awetan yang dihasilkan peternak memenuhi standar gizi yang diperlukan untuk kesehatan dan produktivitas ternak.

Arief Murdiyatno menambahkan, untuk peternakan berskala besar, pihaknya juga mengarahkan penggunaan sistem bunker untuk menyimpan pakan fermentasi. Sistem ini, dengan bantuan probiotik EM4, mampu menghasilkan pakan dengan aroma harum yang disukai ternak, sekaligus menjaga kualitas pakan dalam jumlah besar secara efisien.

Sebagai upaya jangka panjang dalam menekan biaya pakan konsentrat yang mahal di pasaran, pemerintah daerah saat ini juga tengah membangun pabrik pakan baru. Pabrik ini berlokasi di kawasan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, diharapkan dapat menyediakan pakan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau, mendukung keberlanjutan sektor peternakan di Kaltim.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi