Surabaya Great Expo (SGE) 2026, yang berlangsung hingga 9 Agustus 2026, bukan sekadar ajang pameran produk sesaat. Event ini telah bertransformasi menjadi simpul penting yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku usaha, pemerintah, konsumen, hingga penyedia layanan publik dalam satu ekosistem. Di balik hiruk pikuknya, SGE memancarkan denyut ekonomi yang jauh lebih panjang, mendorong lahirnya peluang usaha baru, memperluas jejaring bisnis, dan meningkatkan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Pameran sering dipandang sebagai peristiwa yang datang lalu berlalu, dengan stan dibongkar dan keramaian berganti rutinitas biasa. Namun, SGE menunjukkan bahwa sebuah pameran tidak lagi sekadar ruang memajang produk, melainkan berkembang menjadi platform strategis. Di ruang seperti inilah perputaran ekonomi tidak hanya dihitung dari nilai transaksi, melainkan juga dari lahirnya peluang usaha baru dan peningkatan kapasitas pelaku usaha kecil.
Bagi Kota Surabaya, yang selama ini dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa, keberadaan UMKM bukan sekadar pelengkap struktur ekonomi. Mereka merupakan fondasi yang menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, terutama ketika kondisi ekonomi nasional maupun global menghadapi berbagai tantangan. SGE menjadi salah satu instrumen vital dalam memperkuat fondasi ekonomi lokal ini.
Advertisement
Advertisement
Surabaya Great Expo: Lebih dari Sekadar Pameran
Surabaya Great Expo (SGE) telah berevolusi menjadi sebuah ekosistem yang holistik, melampaui fungsi tradisional pameran. Event ini menjadi titik temu penting bagi pelaku usaha, pemerintah, konsumen, dan layanan publik, menciptakan sinergi yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Di dalam SGE, nilai ekonomi tidak hanya diukur dari transaksi langsung, tetapi juga dari terciptanya peluang usaha baru, penguatan jejaring bisnis, dan peningkatan daya saing UMKM.
Peran UMKM di Surabaya sangat fundamental, mengingat identitas kota ini sebagai pusat perdagangan dan jasa. Mereka adalah tulang punggung yang menjaga stabilitas ekonomi, terutama dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan nasional. SGE secara aktif mendukung peran ini dengan menyediakan platform komprehensif bagi para pelaku usaha mikro dan kecil.
Advertisement
Dampak Ekonomi dan Penguatan Legalitas UMKM
Data penyelenggaraan SGE selama empat tahun terakhir, dari 2022 hingga 2025, mencatat nilai transaksi kumulatif yang impresif, mencapai lebih dari Rp30,3 miliar. Selain itu, pameran ini juga berhasil memfasilitasi promosi bagi sekitar 370 UMKM dan mendorong penerbitan sekitar 450 legalitas usaha. Legalitas tersebut mencakup Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan pendaftaran merek, yang krusial bagi keberlanjutan bisnis.
Untuk penyelenggaraan tahun ini, SGE menargetkan transaksi hingga Rp7 miliar dan kunjungan sekitar 47.650 orang, dengan 106 peserta mengisi 142 stan. Namun, ukuran keberhasilan sejati tidak berhenti pada besarnya nilai penjualan selama pameran berlangsung. Hal yang lebih penting adalah apakah setelah pameran usai, pelaku UMKM memperoleh pelanggan baru, menjalin kerja sama bisnis, memperluas distribusi produk, serta meningkatkan kapasitas usahanya secara berkelanjutan.
SGE menghadirkan pendekatan yang berbeda dengan memadukan pameran dengan pelayanan publik, seperti pengurusan perizinan, sertifikasi halal, pendaftaran merek, hingga layanan paspor. Konsep ini memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya menyediakan ruang berjualan, melainkan juga memperkuat fondasi usaha agar mampu bersaing dalam jangka panjang. Legalitas usaha menjadi aset yang semakin penting, memungkinkan produk UMKM memasuki pasar modern, mengikuti pengadaan pemerintah, hingga merambah pasar ekspor.
Advertisement
Advertisement
Mendorong Nilai Tambah dan Ekonomi Kreatif
Transformasi ekonomi saat ini tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah yang signifikan. Hal ini tampak dari semakin beragamnya produk yang ditampilkan dalam SGE, mulai dari fesyen, batik, makanan olahan, hingga karya ekonomi kreatif yang melibatkan anak-anak dari Rumah Anak Prestasi. Ini menunjukkan bahwa kreativitas telah menjadi modal ekonomi yang sama pentingnya dengan modal finansial.
Keterlibatan kelompok rentan dan generasi muda dalam proses kreatif memberi makna lain terhadap pembangunan ekonomi. Pertumbuhan tidak lagi hanya berbicara mengenai peningkatan pendapatan, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan perubahan karakter ekonomi dunia, di mana persaingan kini ditentukan oleh kemampuan menciptakan identitas produk, cerita di balik produk, serta inovasi yang membedakannya dari produk lain.
Surabaya tampaknya mulai mengarah ke arah tersebut, melalui rencana pengembangan Surabaya Urban Creative Hub atau Sub Expocenter di kawasan eks Hi-Tech Mall. Ruang ini berpotensi menjadi laboratorium ekonomi kreatif yang mempertemukan pelaku UMKM dengan teknologi digital, industri kreatif, serta pemasaran modern. Namun, fasilitas fisik saja tidak cukup; pelaku UMKM juga memerlukan pendampingan berkelanjutan dalam pemasaran digital, pemanfaatan kecerdasan artifisial, fotografi produk, analisis pasar, hingga kemampuan membaca perubahan perilaku konsumen.
Advertisement
Advertisement
Masa Depan Ekonomi Lokal: Tantangan dan Strategi Berkelanjutan
Kota-kota besar di dunia berhasil membangun ekonomi lokal bukan karena banyaknya pusat perbelanjaan, melainkan karena kuatnya jejaring pelaku usaha kecil yang terus tumbuh menjadi perusahaan menengah, bahkan mampu menembus pasar internasional. Surabaya memiliki modal yang cukup untuk bergerak ke arah tersebut, didukung infrastruktur kota yang relatif baik, konektivitas logistik yang kuat, pasar domestik yang besar, serta dukungan pemerintah daerah terhadap UMKM yang terus berkembang.
Meski demikian, tantangan masih terbuka, termasuk persaingan produk impor, perubahan teknologi, fluktuasi daya beli masyarakat, hingga tuntutan pasar digital yang akan semakin memengaruhi keberlangsungan usaha mikro. Oleh karena itu, keberhasilan SGE sebaiknya tidak hanya diukur dari besarnya omzet selama lima hari penyelenggaraan.
Indikator yang lebih strategis ialah berapa banyak UMKM yang naik kelas, mampu memperluas pasar, memperoleh legalitas usaha, memanfaatkan teknologi digital, menciptakan lapangan kerja baru, serta bertahan menghadapi perubahan ekonomi. Pemerintah daerah juga dapat memperkuat strategi tersebut melalui penyelenggaraan pameran yang lebih rutin, yang dapat dipadukan dengan sistem pemasaran digital, sehingga produk yang dipamerkan tetap dapat diakses masyarakat meski kegiatan telah berakhir. Dengan demikian, pameran tidak menjadi peristiwa sesaat, melainkan pintu masuk menuju perdagangan yang berlangsung sepanjang tahun.
Advertisement
Kekuatan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi atau besarnya investasi yang masuk. Kota yang tangguh adalah kota yang mampu menumbuhkan pelaku usaha kecil menjadi penggerak ekonomi, membuka kesempatan yang setara bagi setiap warga untuk berkembang, serta menciptakan ruang yang mempertemukan kreativitas dengan pasar. Surabaya Great Expo menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dapat dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana, yakni mempertemukan produk lokal dengan masyarakatnya sendiri. Ketika pertemuan itu berlangsung secara konsisten, didukung legalitas yang kuat, inovasi yang berkelanjutan, dan keberpihakan pada UMKM, yang bergerak bukan hanya transaksi. Hal yang tumbuh adalah kepercayaan, daya saing, dan optimisme bahwa ekonomi lokal mampu menjadi salah satu penopang perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Sumber: AntaraNews