Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat akumulasi pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 32.389 tenaga kerja sepanjang Januari hingga Juni 2026. Data ini disampaikan berdasarkan pengolahan Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan (Pusdatik), Senin (27/7/2026).
Angka tersebut menggambarkan sebaran kasus lintas provinsi selama enam bulan pertama 2026. Daftar wilayah dengan jumlah pekerja ter-PHK terbanyak turut dirilis sebagai gambaran konsentrasi penyesuaian tenaga kerja.
Rangkaian data berikut memuat provinsi-provinsi dengan jumlah PHK tertinggi beserta puncak bulanan masing-masing, serta dinamika tren nasional per bulan selama periode yang sama.
Advertisement
Peta 10 Provinsi dengan PHK Tertinggi
Berdasarkan data resmi Kemnaker yang diolah Pusdatik, berikut 10 provinsi dengan jumlah kasus PHK tertinggi pada Januari–Juni 2026 beserta bulan puncaknya.
- Jawa Barat
6.727 orang (Puncak pada Februari: 1.836 orang)
- Banten
3.782 orang (Puncak pada April: 1.270 orang)
- Jawa Timur
2.851 orang (Puncak pada Maret: 767 orang)
- DKI Jakarta
2.436 orang (Puncak pada Februari: 560 orang)
- Kalimantan Selatan
2.314 orang (Puncak pada Februari: 995 orang)
- Jawa Tengah
2.205 orang (Puncak pada Februari: 572 orang)
- Kalimantan Timur
2.204 orang (Puncak pada Februari: 643 orang)
- Sumatera Utara
1.651 orang (Puncak pada Mei: 426 orang)
- Sulawesi Selatan
1.387 orang (Puncak pada Mei: 475 orang)
- Sumatera Selatan
1.172 orang (Puncak pada Januari: 467 orang)
Advertisement
Lonjakan Bulanan: Februari Tertinggi, Juni Terendah
Secara nasional, angka PHK bulanan tertinggi terjadi pada Februari 2026 dengan total 7.692 orang, disusul April 2026 sebanyak 6.982 orang dan Maret 2026 sebesar 6.593 orang. Adapun periode terendah tercatat pada Juni 2026 dengan 588 orang.
Pulau Jawa menjadi episentrum dampak penyesuaian tenaga kerja. Lima provinsi di kawasan ini—Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah—masuk ke dalam 10 besar dan berkontribusi pada sebagian besar angka nasional.
Di luar Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan menunjukkan angka yang relatif signifikan sebagai kawasan penopang industri di luar Jawa.