Badan Energi Internasional (IEA) menegaskan dukungannya terhadap langkah-langkah pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk melakukan penghematan konsumsi energi. Hal ini menjadi krusial di tengah krisis energi global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. IEA menekankan bahwa efisiensi energi bukanlah tentang perubahan besar yang sulit, melainkan serangkaian kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Krisis energi global telah menciptakan ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga, sehingga mendorong banyak negara untuk mencari solusi mitigasi. Upaya penghematan energi menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga kestabilan pasokan di tingkat nasional. Langkah proaktif dari organisasi internasional seperti IEA memberikan landasan kuat bagi pemerintah di seluruh dunia untuk mengimplementasikan kebijakan yang relevan.
Di Indonesia sendiri, Presiden Prabowo Subianto telah mendorong langkah penghematan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) sebagai antisipasi dampak krisis global. Inisiatif ini sejalan dengan seruan IEA, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan energi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga turut mengajak masyarakat untuk mengadopsi kebiasaan hemat energi.
Advertisement
Advertisement
Rekomendasi IEA untuk Efisiensi Energi Harian
IEA secara spesifik memberikan beberapa rekomendasi praktis yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai **efisiensi energi**. Kebiasaan-kebiasaan ini, meskipun terlihat sederhana, dapat memberikan dampak signifikan bila dilakukan secara kolektif. Salah satu saran utama adalah mematikan pendingin ruangan (AC) saat tidak digunakan, serta memastikan pintu dan jendela tertutup rapat ketika AC menyala.
Selain itu, penggunaan tirai tebal juga dianjurkan untuk membantu menjaga suhu di dalam ruangan tetap stabil, mengurangi beban kerja AC. IEA juga menyarankan penggantian lampu lama dengan lampu LED yang lebih hemat energi. Pengaturan pemanas air sesuai kebutuhan, tanpa membiarkannya menyala sepanjang hari, juga merupakan langkah penting dalam penghematan.
Dalam hal transportasi, IEA merekomendasikan gaya berkendara yang bijak. Berkendara dengan stabil, tidak ngebut, dan menghindari akselerasi mendadak dapat membuat bahan bakar lebih awet. Lebih lanjut, masyarakat didorong untuk mengandalkan transportasi umum, menggunakan sepeda, atau berjalan kaki apabila memungkinkan, sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
Advertisement
Advertisement
Respons Pemerintah Indonesia Menghadapi Krisis Energi
Pemerintah Indonesia menunjukkan respons cepat terhadap potensi dampak krisis energi global dengan mengambil berbagai kebijakan strategis. Dalam sidang kabinet di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto secara langsung mendorong langkah penghematan konsumsi BBM. Pertimbangan kebijakan kerja dari rumah atau WFH juga menjadi salah satu opsi yang dievaluasi sebagai langkah antisipasi terhadap krisis global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara aktif mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai menjalankan kebiasaan hemat energi, baik di lingkungan rumah maupun di tempat kerja. Ajakan ini mencerminkan kesadaran pemerintah akan pentingnya peran serta publik dalam upaya mitigasi krisis.
Selain itu, pemerintah juga menganjurkan masyarakat untuk memprioritaskan penggunaan transportasi publik untuk aktivitas keseharian, ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi konsumsi BBM, tetapi juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan kemacetan lalu lintas di perkotaan.
Advertisement
Advertisement
Kebijakan Efisiensi Energi di Berbagai Negara
Krisis energi global telah memicu berbagai negara untuk mengumumkan kebijakan penghematan energi sebagai respons atas ketidakpastian yang terjadi. Thailand, misalnya, telah meminta pegawai negeri untuk bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar. Selain itu, Thailand juga membatasi penggunaan lift dan eskalator, serta mengatur suhu pendingin ruangan di kisaran 26–27 derajat Celsius.
Filipina juga menerapkan kebijakan serupa dengan memberlakukan sistem kerja empat hari dalam sepekan di sektor publik, sebuah langkah yang diharapkan dapat mengurangi mobilitas dan konsumsi energi. Pakistan tidak ketinggalan dengan menyiapkan rencana penghematan energi melalui pembelajaran jarak jauh dan pengaturan kerja dari rumah.
Berbagai contoh kebijakan dari negara-negara ini menunjukkan bahwa **efisiensi energi** adalah prioritas global. Langkah-langkah kolektif dan individu sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas energi dan ekonomi di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews