Di tengah deretan rak bambu yang dipenuhi genteng, tiga pekerja perempuan dengan cekatan merapikan tepi tanah liat basah, mengikis sisa cetakan dengan gerakan terlatih. Genteng-genteng yang baru dibentuk kemudian dipulas tipis agar permukaannya halus, sebelum dipindahkan ke rak pengeringan di bagian belakang ruangan. Setelah itu, cetakan tanah liat tersebut disiapkan untuk proses pengeringan hingga pembakaran.
Suasana sibuk dengan percakapan pendek para pekerja menjadi pemandangan sehari-hari di sentra genteng Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Ritme kerja ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi genteng masih terus berjalan di kawasan tersebut.
Geliat ini semakin diperkuat dengan adanya dorongan dari pemerintah pusat, melalui Presiden Prabowo Subianto, untuk menggalakkan penggunaan atap genteng pada bangunan, khususnya fasilitas publik dan gedung pemerintahan. Kebijakan ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru dan kembali menghidupkan kejayaan Industri Genteng Jatiwangi.
Advertisement
Advertisement
Geliat Produksi Genteng Jatiwangi yang Bertahan
Syamsul Maarif, pemilik salah satu pabrik genteng rakyat di Jatiwangi, menyaksikan langsung proses produksi yang tak pernah berhenti di tempatnya. Genteng-genteng yang dihasilkan terlihat kokoh dengan warna merah alami, menjadi ciri khas yang lazim digunakan pada rumah-rumah di Pulau Jawa.
Menurut Syamsul, meskipun jumlah pabrik tidak sebanyak dulu, perajin genteng di Jatiwangi tetap bertahan menjalankan usahanya. Pabriknya sendiri beroperasi hampir setiap hari, menghasilkan sekitar 1.800 hingga 2.000 keping genteng matang per hari, dari Senin sampai Sabtu.
Proses pembuatan genteng dimulai dari pengambilan tanah liat di sekitar Jatiwangi, dicampur bahan tambahan, digiling, lalu dicetak. Genteng basah kemudian dirapikan tepinya, dikeringkan awal di rak bambu selama dua hingga tiga hari, sebelum dijemur di bawah sinar Matahari.
Advertisement
Setelah kering sempurna, genteng dibakar dalam tungku yang disebut hawu menggunakan kayu selama delapan hingga dua belas jam, tergantung kondisi kayu dan suhu. Genteng yang sudah matang kemudian didinginkan dan disortir, siap dipasarkan ke toko material bangunan atau langsung kepada pembeli di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Advertisement
Sejarah dan Tantangan Industri Genteng Majalengka
Industri genteng di Jatiwangi, bersama kecap Majalengka, telah lama menjadi ikon daerah tersebut. Pada masa kejayaannya sekitar dekade 1980-an hingga awal 2000-an, produksi genteng Jatiwangi sangat pesat, memasok berbagai kota dan bahkan menembus pasar luar negeri.
Dahulu, lebih dari 600 pabrik genteng atau jebor beroperasi di hampir setiap desa, dengan truk-truk pengangkut genteng rutin keluar masuk kampung. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari usaha ini, dan halaman rumah seringkali dipenuhi tumpukan genteng yang dijemur.
Namun, perubahan mulai terasa seiring pembangunan infrastruktur besar dan munculnya pabrik manufaktur di sekitar Majalengka. Banyak anak muda memilih bekerja di sektor industri lain yang dianggap menawarkan penghasilan lebih stabil, menyebabkan jumlah pabrik genteng menyusut. Kini, diperkirakan hanya sekitar 120 pabrik yang masih bertahan.
Advertisement
Advertisement
Dorongan 'Gentengisasi' dan Peluang Baru
Di tengah tantangan ini, perhatian terhadap industri genteng kembali menguat setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong penggunaan atap genteng pada bangunan, terutama fasilitas publik dan gedung pemerintahan. Arahan ini dipandang sebagai peluang besar bagi daerah penghasil genteng seperti Majalengka.
Bupati Majalengka Eman Suherman menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti arahan tersebut, karena penggunaan genteng akan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pelaku usaha dan perajin lokal. Pemerintah daerah akan mendorong penggunaan genteng pada pembangunan gedung pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur publik lainnya.
Eman menegaskan bahwa implementasi kebijakan ini akan diselaraskan dengan perencanaan pembangunan daerah, agar sejalan dengan fondasi pembangunan di Majalengka. Selain ramah lingkungan, penggunaan genteng juga dianggap sesuai dengan karakter iklim tropis Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Sinergi Dunia Usaha Membuka Pasar Genteng Jatiwangi
Upaya memperkuat pasar genteng juga datang dari kalangan dunia usaha. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Majalengka telah menginisiasi pertemuan antara pengusaha genteng dengan pengembang perumahan serta lembaga perbankan.
Ketua Kadin Majalengka Raden Suryanatanagara menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan memberikan kepastian pasar bagi industri genteng lokal. Forum "Majalengka Housing Partnership Gentengisasi 2026" mempertemukan sekitar 30 pengusaha genteng dan hampir 35 pengembang perumahan, serta perwakilan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk membahas akses pembiayaan.
Dalam forum tersebut, telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan dinas terkait dan asosiasi pengembang di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Hal ini memastikan bahwa pengembang perumahan di wilayah tersebut memiliki jalinan kerja sama dengan pengusaha genteng Jatiwangi.
Advertisement
Untuk memperkuat tata niaga, pembelian genteng direncanakan dipusatkan melalui koperasi perajin genteng Jatiwangi yang baru dibentuk, diharapkan memudahkan distribusi dan memperkuat posisi tawar perajin. Kapasitas produksi industri genteng Majalengka yang mencapai sekitar satu juta genteng per hari dinilai mampu memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan di Ciayumajakuning yang ditargetkan sekitar 3.000 unit tahun ini.
Sumber: AntaraNews