Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, kembali mengambil langkah strategis dengan menerapkan teknologi Sistem Intensifikasi Padi (SRI). Inisiatif ini bertujuan untuk mendongkrak produksi pangan secara signifikan, sekaligus mendukung penuh program swasembada pangan nasional.
Penerapan teknologi SRI ini bukan hal baru bagi Lebak, sebab pada tahun 2013, Distan Lebak pernah berhasil mengimplementasikannya. Saat itu, produktivitas gabah kering pungut (GKP) mampu mencapai 12 ton per hektare, jauh melampaui sawah konvensional yang rata-rata hanya 6 ton GKP per hektare.
Kepala Distan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, menegaskan bahwa penerapan teknologi SRI sangat menguntungkan. Peningkatan produksi dan produktivitas hingga dua kali lipat ini diharapkan dapat secara langsung mewujudkan kesejahteraan para petani di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Keunggulan Sistem Intensifikasi Padi (SRI)
Teknologi SRI menawarkan berbagai keunggulan yang signifikan dibandingkan metode penanaman padi konvensional. Salah satu aspek utamanya adalah peningkatan produktivitas yang mencapai dua kali lipat, dari rata-rata 6 ton GKP menjadi 12 ton GKP per hektare.
Selain itu, sistem SRI juga sangat efisien dalam penggunaan benih. Petani hanya membutuhkan sekitar 5-7 kg benih padi per hektare, jauh lebih sedikit dibandingkan sistem non-SRI yang memerlukan 15-25 kg benih per hektare. Teknologi ini juga fleksibel karena tidak membatasi varietas benih, sehingga bisa menggunakan varietas seperti Ciherang, IR 64, atau Inpari 32.
Keunggulan lainnya terletak pada efisiensi waktu tanam dan panen. Bibit padi dapat ditanam hanya 5-12 hari setelah disemai, berbanding terbalik dengan sistem konvensional yang memerlukan 25-30 hari setelah semai. Hal ini berdampak pada musim panen yang lebih awal, sekitar 10-15 hari lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Advertisement
Advertisement
Target Pengembangan dan Dampak Ekonomi
Distan Lebak berencana untuk mengembangkan penerapan teknologi SRI di 28 kecamatan di Kabupaten Lebak. Beberapa kecamatan yang sebelumnya telah menerapkan teknologi ini antara lain Sobang, Panggarangan, Cipanas, Muncang, Leuwidamar, Warunggunung, dan Cibeber.
Percepatan tanam dengan teknologi ini diharapkan dapat dilakukan pada awal musim tanam pertama, yaitu Februari 2026. Hasil pertanian pangan yang melimpah nantinya akan ditampung oleh perusahaan daerah Lebak Niaga. Selanjutnya, hasil panen tersebut akan diolah menjadi beras melalui Rice Milling Unit (RMU) yang berlokasi di Desa Bojong Leles, Kecamatan Cibadak.
Peningkatan produktivitas GKP hingga 12 ton per hektare memiliki dampak ekonomi yang substansial bagi petani. Dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kg, petani berpotensi menghasilkan pendapatan ekonomi hingga Rp78 juta per hektare. Rahmat Yuniar meyakini bahwa pendapatan sebesar ini akan memastikan kehidupan petani relatif baik dan sejahtera.
Advertisement
Sumber: AntaraNews