Penyaluran Kredit Bali Nusra Tumbuh 8 Persen, Sektor Produktif Jadi Tulang Punggung Ekonomi Regional

OJK mencatat penyaluran kredit Bali Nusra melonjak 8 persen per Oktober 2025, didominasi sektor produktif, menunjukkan kepercayaan ekonomi regional yang kuat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penyaluran Kredit Bali Nusra Tumbuh 8 Persen, Sektor Produktif Jadi Tulang Punggung Ekonomi Regional
OJK mencatat penyaluran kredit Bali Nusra melonjak 8 persen per Oktober 2025, didominasi sektor produktif, menunjukkan kepercayaan ekonomi regional yang kuat. (AntaraNews)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam penyaluran kredit di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang secara kolektif dikenal sebagai Bali Nusra. Per Oktober 2025, total penyaluran kredit telah mencapai angka Rp245 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang solid sebesar delapan persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp226,8 triliun.

Peningkatan ini menjadi indikator positif bagi perekonomian regional, di mana sebagian besar kredit tersebut disalurkan untuk mendukung sektor-sektor produktif. Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, yang juga menjabat sebagai koordinator wilayah Bali Nusra, menegaskan bahwa kinerja intermediasi perbankan di ketiga provinsi ini menunjukkan daya tahan yang sangat kuat.

Dominasi penyaluran kredit ke sektor produktif, termasuk modal kerja dan investasi, menggarisbawahi komitmen perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi riil di kawasan tersebut. Hal ini juga mencerminkan kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat terhadap prospek ekonomi Bali Nusra di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.

Kinerja Intermediasi Perbankan dan Dominasi Kredit Produktif

Penyaluran kredit perbankan di Bali Nusra menunjukkan tren positif dengan total mencapai Rp245 triliun per Oktober 2025, naik dari Rp226,8 triliun pada Oktober 2024. Pertumbuhan delapan persen ini didominasi oleh alokasi untuk kegiatan produktif, yang mencakup 57,70 persen dari total kredit yang disalurkan.

Secara spesifik, 30,82 persen dari kredit produktif dialokasikan sebagai modal kerja, sementara 26,88 persen lainnya digunakan untuk investasi. Angka ini menegaskan bahwa perbankan di Bali Nusra berperan krusial dalam membiayai kegiatan usaha yang mendorong produksi dan penciptaan nilai tambah di wilayah tersebut. Penyaluran kredit Bali Nusra yang fokus pada sektor produktif ini sangat penting untuk keberlanjutan ekonomi.

Selain itu, sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga mendapatkan porsi signifikan, dengan 41,30 persen dari total kredit disalurkan kepada para pelaku UMKM di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Dukungan terhadap UMKM ini vital mengingat peran mereka sebagai tulang punggung ekonomi lokal dan penyerap tenaga kerja. Kontribusi ini memperkuat struktur ekonomi regional dan mendukung pertumbuhan inklusif.

Kredit Investasi Melonjak, Indikator Kepercayaan Ekonomi Regional

Salah satu pendorong utama pertumbuhan penyaluran kredit Bali Nusra adalah peningkatan nominal kredit investasi yang sangat substansial. Kredit investasi bertambah sebesar Rp18,31 triliun, mencatat pertumbuhan impresif sebesar 38,52 persen secara tahunan.

Kristrianti Puji Rahayu menjelaskan bahwa tingginya pertumbuhan kredit investasi ini merupakan cerminan dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Bali Nusra. Investasi yang terus mengalir menunjukkan optimisme pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya di wilayah Bali, NTB, dan NTT. Ini juga menandakan iklim usaha yang kondusif di tengah tantangan ekonomi.

Peningkatan investasi ini diharapkan akan menciptakan lapangan kerja baru, mendorong inovasi, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan per kapita di wilayah tersebut. Penyaluran kredit Bali Nusra untuk investasi merupakan fondasi penting bagi pembangunan jangka panjang dan diversifikasi ekonomi.

Stabilitas Keuangan dan Ketahanan Perbankan Bali Nusra

Di tengah pertumbuhan penyaluran kredit Bali Nusra, sektor perbankan di wilayah ini juga menunjukkan stabilitas yang kuat, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang terkendali. NPL di tiga provinsi itu mencapai 2,98 persen per Oktober 2025, lebih rendah dibandingkan periode sama 2024 yang sebesar 3,05 persen.

Selain itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan positif, mencapai Rp300,54 triliun per Oktober 2025, meningkat 8,34 persen dibandingkan pada Oktober 2024 yang mencapai Rp277,41 triliun. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat dalam menyimpan dananya di perbankan lokal, yang pada gilirannya memperkuat basis likuiditas bank.

Likuiditas dan permodalan perbankan di Bali dan Nusa Tenggara juga tetap kuat, sebagaimana tercermin dari rasio kas (CR) dan rasio kecukupan modal (CAR) yang sehat. Rasio CR untuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Bali sebesar 15,13 persen, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 21,68 persen, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 8,06 persen. Sementara itu, CAR BPR di Bali mencapai 29,92 persen, NTB sebesar 44,95 persen, dan NTT sebesar 42,49 persen.

Puji menekankan bahwa tingginya permodalan perbankan ini diyakini mampu menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat. Ini penting untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian global dan memastikan stabilitas sistem keuangan di Bali Nusra tetap terjaga.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi