Kepala Mandiri Institute, Andre Simangunsong, meyakini bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia akan mengalami peningkatan signifikan. Lonjakan ini diprediksi terjadi pada kuartal I-2026, didorong kuat oleh momentum Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Peningkatan daya beli dan aktivitas ekonomi selama periode keagamaan ini menjadi pemicu utama.
Andre Simangunsong juga menambahkan bahwa pola konsumsi yang tinggi ini akan terus berlanjut hingga kuartal II-2026. Hal tersebut seiring dengan datangnya momen libur sekolah, yang secara tradisional mendorong pengeluaran masyarakat. Aktivitas seperti rekreasi dan belanja kebutuhan anak sekolah diperkirakan akan menjaga momentum konsumsi.
Sebetulnya, dorongan terhadap konsumsi masyarakat Indonesia telah dimulai sejak kuartal IV tahun sebelumnya, menurut Andre. Ini berkat adanya implementasi Paket Stimulus Ekonomi dari pemerintah. Stimulus tersebut mencakup Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra) dan Program Magang.
Advertisement
Advertisement
Proyeksi Peningkatan Konsumsi di Awal 2026
Andre Simangunsong, Kepala Mandiri Institute, dengan optimis menyatakan keyakinannya terhadap peningkatan konsumsi masyarakat. Ia memproyeksikan lonjakan pola konsumsi akan terjadi pada awal tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada analisis tren musiman yang selalu terjadi di Indonesia.
Momentum Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi pendorong utama pada kuartal pertama. Masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan pokok, pakaian, dan persiapan perayaan. Hal ini secara langsung berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Pola konsumsi yang kuat ini diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal kedua tahun 2026. Faktor pendorongnya adalah periode libur sekolah yang biasanya jatuh pada bulan Juni dan Juli. Selama periode ini, pengeluaran untuk rekreasi, wisata, dan kebutuhan keluarga cenderung meningkat secara signifikan.
Advertisement
Advertisement
Dorongan Stimulus Ekonomi Akhir Tahun
Sebelum memasuki tahun 2026, pola konsumsi masyarakat Indonesia telah mendapatkan dorongan substansial. Peningkatan ini mulai terasa sejak kuartal IV tahun sebelumnya. Stimulus ekonomi ini bertujuan untuk menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi.
Pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi yang mencakup beberapa program penting. Di antaranya adalah Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra) dan Program Magang. Kedua program ini dirancang untuk menyuntikkan dana langsung ke masyarakat.
Nilai BLT Kesra diperkirakan mencapai sekitar Rp31 triliun, sementara Program Magang berkontribusi hampir Rp500 miliar. Total stimulus sekitar Rp32 triliun ini dianggap sangat material. Andre Simangunsong menjelaskan bahwa angka tersebut setara dengan lebih dari 0,016 hingga 0,020 dari PDB nominal Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Peran Dominan Gen-Z dalam Konsumsi Nasional
Dalam analisisnya, Andre Simangunsong juga menyoroti peran krusial generasi Gen-Z dalam keseluruhan konsumsi masyarakat. Gen-Z kini semakin mendominasi pasar dan memiliki pengaruh besar terhadap tren pengeluaran. Memahami pola konsumsi mereka menjadi sangat penting bagi pelaku bisnis.
Pola konsumsi Gen-Z cenderung memprioritaskan kebutuhan tersier atau hiburan. Mereka aktif dalam pengeluaran yang berkaitan dengan olahraga, hobi, dan hiburan. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin lebih fokus pada kebutuhan primer.
Meskipun demikian, pengeluaran Gen-Z untuk kebutuhan esensial dan makan di luar juga tetap tinggi. Aktivitas seperti 'dining out' atau makan di restoran masih menjadi bagian besar dari alokasi dana mereka. Kebutuhan pokok tetap terpenuhi, namun dengan gaya hidup yang lebih modern.
Advertisement
Kontribusi Gen-Z terhadap total konsumsi masyarakat Indonesia sangat signifikan. Data menunjukkan bahwa Gen-Z menyumbang sekitar 48-51 persen dari keseluruhan konsumsi. Angka ini mencakup semua kelompok usia, menunjukkan kekuatan ekonomi generasi muda ini.
Sumber: AntaraNews