Mentan Amran: Tak Ada Tanggal Merah, Semua Hitam Demi Percepatan Swasembada Pangan Nasional

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen penuh kementeriannya untuk percepatan **swasembada pangan** nasional, bahkan meniadakan hari libur demi target ambisius.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mentan Amran: Tak Ada Tanggal Merah, Semua Hitam Demi Percepatan Swasembada Pangan Nasional
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen penuh kementeriannya untuk percepatan **swasembada pangan** nasional, bahkan meniadakan hari libur demi target ambisius. (AntaraNews)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada lagi hari libur atau "tanggal merah" di lingkungan kementeriannya. Semua hari kerja kini dianggap sebagai "tanggal hitam" sebagai wujud fokus penuh pemerintah. Keputusan ini diambil untuk mempercepat terwujudnya **swasembada pangan** dan penguatan ketahanan nasional secara berkelanjutan.

Pernyataan ini disampaikan Mentan Amran dalam acara pelantikan serentak Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin (Unhas) 2025-2029 di Makassar, Sulawesi Selatan. Komitmen ini sejalan dengan target ambisius Presiden Prabowo Subianto. Presiden menargetkan percepatan swasembada pangan dari empat tahun menjadi tiga tahun, bahkan hingga satu tahun.

Dengan target yang sangat singkat ini, Kementerian Pertanian dituntut untuk bekerja ekstra keras. Mentan Amran melihat hal ini sebagai tantangan sekaligus momentum penting untuk membuktikan kapasitas sektor pertanian Indonesia di mata dunia. Langkah strategis dan kerja keras tanpa henti menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan besar ini.

Fokus Percepatan Swasembada Pangan

Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target yang luar biasa bagi sektor pertanian. Percepatan **swasembada pangan** dari empat tahun menjadi tiga tahun, dan kemudian hanya satu tahun, menunjukkan urgensi dan prioritas tinggi pemerintah. Mentan Amran menekankan bahwa target ini bukan sekadar retorika, melainkan panggilan untuk bertindak nyata.

Amran Sulaiman menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat menuju swasembada. Ia mengutip bahwa berbagai lembaga dunia telah mencatat lonjakan produksi pangan di Indonesia. Hal ini menjadi indikator positif atas upaya yang telah dan sedang dilakukan.

"Presiden luar biasa. Beliau meminta kami siap dalam satu tahun. Kami tidak biasa bercerita sebelum bertindak, kami biasanya bekerja dulu baru bicara," ujar Amran, menggambarkan etos kerja yang diusung. Pendekatan ini menunjukkan fokus pada hasil konkret daripada janji semata, demi keberlanjutan **swasembada pangan**.

Pengakuan Internasional dan Kinerja Lapangan

Sektor pertanian Indonesia kini semakin menjadi sorotan dunia, sebuah bukti nyata dari kerja keras dan integritas yang telah ditunjukkan. Mentan Amran mengungkapkan bahwa menteri pertanian dari beberapa negara maju telah berkunjung ke Indonesia. Mereka datang untuk menanyakan strategi Indonesia dalam peningkatan produksi pangan nasional.

"Menteri Pertanian Jepang belum pernah datang ke Indonesia, tapi tahun ini mereka datang untuk menanyakan strategi untuk meningkatkan produksi pangan kita. Bukan hanya Jepang, menteri-menteri negara lain pun berdatangan. Ini bukti bahwa kerja dan integritas mampu menghadirkan kepercayaan internasional," kata Amran. Pengakuan ini memperkuat posisi Indonesia dalam upaya **swasembada pangan**.

Kepercayaan global ini, menurut Amran, tidak lahir dari retorika kosong, melainkan dari kerja nyata dan konsistensi di lapangan. Ia secara pribadi selalu menguji disiplin dan kapasitas timnya, memastikan mereka terjun langsung ke lapangan dan bekerja dengan serius. "Tanpa fakta, tidak mungkin kita meyakinkan siapa pun. Saya menguji mereka, dan saya melihat sendiri bahwa mereka on time, bekerja serius, dan siap menembus target," tegasnya.

Proyeksi Peningkatan Produksi dan Peran Alumni

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran optimis mengenai proyeksi produksi beras nasional. Produksi beras Januari-Desember 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Angka ini meningkat signifikan sebesar 4,14 juta ton atau naik 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang sekitar 30 juta ton lebih.

Selain itu, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menilai Indonesia berpotensi melompat menjadi produsen pangan nomor dua dunia setelah Brasil. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan internasional yang tinggi terhadap arah kebijakan pangan nasional. Lembaga riset Amerika Serikat (USDA) bahkan memprediksi peningkatan produksi beras Indonesia sebelum musim tanam dimulai.

"Bahkan hebatnya lagi, lembaga riset di Amerika (USDA) sudah memprediksi produksi beras kita akan meningkat sebelum kita tanam, coba kita cari tahu metode penelitian yang mereka pakai, luar biasa," ungkap Amran. Dalam kesempatan tersebut, Mentan juga mengajak seluruh alumnus Unhas untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional, khususnya dalam mendukung **swasembada pangan**.

Ia menegaskan bahwa alumnus Unhas memiliki kapasitas besar untuk menjadi motor perubahan. "Ayo, seluruh alumni Unhas. Getarkan dunia. Siapkan generasi penerus, latih dan dampingi mereka. Inilah legacy besar yang harus kita tinggalkan. Pertanian adalah masa depan Indonesia, dan kita semua memegang kunci penting untuk mencapainya," pungkas Amran, menyerukan kolaborasi demi masa depan pangan Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi