Tahukah Anda? Ekspor Perhiasan Indonesia Hampir Lampaui Rekor, Kemenperin Dorong Industri Perhiasan Dalam Negeri Masuk Top 10 Global

Kementerian Perindustrian optimistis Industri Perhiasan Dalam Negeri mampu bersaing di kancah global. Ekspor perhiasan melonjak, namun tantangan harga emas menanti.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Ekspor Perhiasan Indonesia Hampir Lampaui Rekor, Kemenperin Dorong Industri Perhiasan Dalam Negeri Masuk Top 10 Global
Kementerian Perindustrian optimistis Industri Perhiasan Dalam Negeri mampu bersaing di kancah global. Ekspor perhiasan melonjak, namun tantangan harga emas menanti. (AntaraNews)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara aktif mendorong kinerja pelaku Industri Perhiasan Dalam Negeri, termasuk emas dan permata, agar mampu menempatkan Indonesia dalam jajaran 10 besar industri perhiasan di tingkat global. Dorongan ini disampaikan dalam International Jewelery Fair (SIJF) 2025 di Surabaya, pada Kamis (09/10), menegaskan potensi besar sektor ini.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, menyatakan bahwa industri perhiasan merupakan salah satu komoditas unggulan nasional. "Jadi memang industri perhiasan ini merupakan salah satu sektor ataupun komoditi unggulan,” kata Reni Yanita, menyoroti peran strategisnya dalam perekonomian.

Capaian ekspor perhiasan nasional menunjukkan tren positif, dengan nilai mencapai 5,06 miliar dolar AS untuk periode Januari hingga Juli, meningkat signifikan 37,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mendekati total ekspor sepanjang 2024 yang diproyeksikan sebesar 5,5 miliar dolar AS, mengindikasikan rekor baru akan segera terlampaui.

Kinerja Ekspor Industri Perhiasan yang Gemilang

Industri perhiasan Indonesia menunjukkan performa ekspor yang mengesankan, dengan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Data Kemenperin mencatat bahwa ekspor perhiasan telah mencapai 5,06 miliar dolar AS dari Januari hingga Juli, menunjukkan pertumbuhan sebesar 37,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat 12 dalam suplai perhiasan global, sebuah peningkatan posisi yang patut diperhitungkan.

Reni Yanita optimis bahwa total ekspor perhiasan sepanjang tahun ini akan melampaui rekor tahun sebelumnya. "Artinya tinggal sedikit lagi rekor tahun lalu sudah terlampaui,” ujarnya, menyoroti momentum positif yang sedang terjadi. Peningkatan ini menjadi bukti nyata kapasitas dan daya saing Industri Perhiasan Dalam Negeri di pasar internasional.

Tren positif ini tidak hanya mencerminkan kualitas produk perhiasan Indonesia, tetapi juga kemampuan adaptasi pelaku industri terhadap dinamika pasar global. Dengan dukungan pemerintah dan inovasi yang berkelanjutan, potensi Indonesia untuk masuk ke dalam 10 besar produsen perhiasan dunia semakin terbuka lebar.

Tantangan Harga Emas dan Daya Beli Konsumen

Meskipun kinerja ekspor Industri Perhiasan Dalam Negeri cemerlang, industri ini menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait fluktuasi harga komoditas emas. Kenaikan harga emas yang melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan beban bahan baku bagi para produsen. Hal ini memaksa beberapa produsen untuk melakukan penyesuaian strategi.

Reni Yanita mencontohkan, "Saya lihat ada beberapa yang produsen yang bahkan menurunkan kadar emas untuk perhiasan mereka. Sehingga, harganya tak terlalu memberatkan konsumen.” Langkah ini diambil untuk menjaga daya saing harga produk di tengah tingginya biaya produksi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI), Iskandar Husin, menambahkan bahwa lonjakan harga emas merupakan peluang sekaligus tantangan. Minat masyarakat terhadap perhiasan emas meningkat karena persepsi nilai investasinya yang terus naik. Namun, di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi kendala, membuat pembelian perhiasan mahal menjadi pertimbangan serius.

Situasi ini menciptakan dilema bagi pelaku Industri Perhiasan Dalam Negeri. Meskipun permintaan tinggi, harga yang melambung dapat menghambat penjualan. Oleh karena itu, beberapa produsen mulai mencoba membuat perhiasan dengan kadar 14 karat, meskipun mayoritas konsumen masih mencari perhiasan 16-18 karat.

Strategi dan Harapan untuk Industri Perhiasan Nasional

Untuk menjaga keberlanjutan dan pertumbuhan Industri Perhiasan Dalam Negeri, diperlukan strategi yang komprehensif. Iskandar Husin dari APEPI menekankan pentingnya pengamanan pasokan emas domestik. Hal ini bertujuan agar pelaku industri tidak terlalu bergantung pada harga internasional yang fluktuatif dan kurs dolar yang dapat memengaruhi biaya impor bahan baku.

"Kalau kita harus impor bahan baku kan juga terpengaruh kurs dolar jadi saya berharap sinergi antarpelaku industri domestik bisa menumbuhkan ekonomi,” katanya, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi. Sinergi antara pemerintah, produsen, dan pemasok bahan baku diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri yang lebih stabil dan mandiri.

Adaptasi terhadap preferensi konsumen juga menjadi kunci. Meskipun sebagian besar masih mencari perhiasan dengan kadar tinggi, inovasi produk dengan kadar yang lebih rendah seperti 14 karat dapat menjadi solusi untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Dengan demikian, Industri Perhiasan Dalam Negeri dapat terus berkembang, menghadapi tantangan, dan memanfaatkan peluang yang ada.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi