Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, berhasil mencatat sejarah baru dalam penyerapan gabah kering panen (GKP) dari petani lokal. Hingga saat ini, total penyerapan telah mencapai 12.000 ton GKP, sebuah angka yang belum pernah tercapai sebelumnya. Capaian ini terus bertambah seiring dengan masih berlangsungnya musim panen di berbagai wilayah.
Muhammad Azwar Fuad, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim, menyatakan bahwa rekor ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Bulog Kotim. Sebelumnya, penyerapan gabah biasanya hanya berkisar antara 1.000 hingga 2.000 ton beras atau setara dengan 3.000 ton GKP. Peningkatan signifikan ini menunjukkan efektivitas program optimalisasi yang dicanangkan pemerintah pusat.
Program ini memiliki dua tujuan utama, yakni menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan memperkuat stok pangan nasional. Bulog Kotim juga menegaskan kesiapannya untuk terus menyerap hasil panen dari tiga kabupaten di wilayah kerjanya, yaitu Kotim, Seruyan, dan Katingan, dengan harga pokok penjualan (HPP) pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk GKP.
Advertisement
Advertisement
Capaian Historis Penyerapan Gabah di Kotim
Penyerapan gabah kering panen (GKP) oleh Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur telah mencapai titik historis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan total 12.000 ton GKP yang berhasil diserap, angka ini jauh melampaui rata-rata penyerapan tahunan yang biasanya hanya sekitar 3.000 ton GKP.
Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Bulog dalam mendukung petani lokal dan menjaga ketersediaan pangan. Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad, mengungkapkan, “Ini tertinggi di sejarah Bulog Kotim. Dulu, biasanya serapan itu hanya 1.000-2.000 ton beras atau setara 3.000 ton GKP, tapi sekarang sudah tembus 12.000 ton dan ini terus bertambah seiring dengan panen musim gadu 2025 ini.”
Proses penyerapan ini masih terus berlanjut, terutama karena panen musim gadu 2025 masih berlangsung di beberapa wilayah. Kondisi ini memberikan optimisme terhadap penguatan stok pangan di daerah dan stabilitas harga gabah bagi para petani di Kotim dan sekitarnya.
Advertisement
Advertisement
Strategi Pemerintah dan Peran Bulog dalam Stabilitas Pangan
Capaian penyerapan gabah yang signifikan ini merupakan dampak langsung dari program optimalisasi sesuai kebijakan pemerintah pusat. Kebijakan strategis ini dirancang untuk mencapai dua sasaran penting: menjaga stabilitas harga bagi petani dan memastikan penguatan stok pangan nasional secara berkelanjutan.
Perum Bulog secara nasional mendapat mandat untuk menyerap 3 juta ton GKP yang setara beras, dengan penetapan harga Rp6.500 per kilogram. Setelah target nasional tersebut tercapai, operasi penyerapan GKP oleh Perum Bulog tetap berlanjut, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan.
Muhammad Azwar Fuad menambahkan, “Jadi, sepanjang ada yang masih panen kami diwajibkan untuk terus menyerap dengan harga pokok penjualan (HPP) pemerintah, yakni Rp6.500 per kilogram untuk GKP.” Hal ini memastikan bahwa petani memiliki pasar yang pasti untuk hasil panennya dengan harga yang menguntungkan, sekaligus mendukung ketahanan pangan negara.
Advertisement
Advertisement
Kesiapan Infrastruktur dan Stok Pangan Lokal
Untuk menampung volume gabah yang diserap, Perum Bulog Kantor Cabang Kotim telah memperkuat kapasitas penyimpanannya. Pihaknya telah menyewa dua bangunan tambahan sebagai gudang, sehingga total ada empat gudang yang beroperasi. Gudang-gudang ini diperkirakan mampu menampung hingga total 9.000 ton beras.
Dari total GKP yang telah diserap, sebagian besar sudah diolah menjadi beras. Sebanyak 7.000 ton beras telah disimpan di gudang Perum Bulog Kantor Cabang Kotim. Selain itu, sekitar 2.000 ton GKP, yang setara dengan 1.000 ton beras, masih dalam proses pengolahan di mitra penggilingan.
Secara keseluruhan, stok beras yang dikuasai oleh Perum Bulog Kantor Cabang Kotim saat ini mencapai 8.000 ton. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di wilayah kerjanya, termasuk Kotim, Seruyan, dan Katingan, hingga 13 bulan ke depan, menunjukkan tingkat ketahanan pangan yang kuat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews