Gen Z Wajib Tahu, Keterampilan Sederhana tapi Krusial untuk Karier

Salah satu keterampilan yang dianggap krusial bagi Gen Z untuk dapat bertahan di lingkungan kerja adalah kemampuan ini.

Linda Maulina Khairunnisa
Gen Z Wajib Tahu, Keterampilan Sederhana tapi Krusial untuk Karier
Ilustrasi ngobrol, bicara, komunikasi, menyapa. (Image by freepik) (© 2025 Liputan6.com)

Banyak orang tua yang melarang anak-anaknya untuk berinteraksi dengan orang asing. Namun, pada kenyataannya, ketika mereka tumbuh dewasa, keterampilan tersebut sangat diperlukan agar dapat beradaptasi di lingkungan kerja.

Psikoterapis, penulis, dan pembawa acara podcast Esther Perel menekankan bahwa kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang asing adalah salah satu keterampilan krusial yang harus dikuasai oleh Generasi Z sebelum memasuki dunia profesional.

"Berbicara dengan orang asing adalah improvisasi, spontanitas, kebetulan, kejutan, hal baru dan keterlibatan aktif dengan hal yang tidak diketahui," ujar Perel dalam podcast A Bit of Optimism, seperti yang dikutip dari CNBC, pada Senin (15/9).

Beberapa orang berpendapat bahwa pekerja Gen Z menjadi penyebab mengapa obrolan santai di tempat kerja semakin jarang.

Di sisi lain, ada juga yang beranggapan bahwa mereka terlalu sering membagikan cerita pribadi kepada rekan-rekannya.

Selain itu, Gen Z dilaporkan memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, yang membuat mereka merasa kurang nyaman saat harus berbicara santai dengan orang asing.

Keterampilan Sepele, tapi Penting untuk Gen Z di Dunia Kerja
Ilustrasi ngobrol, bicara, komunikasi, menyapa. (Image by freepik) © 2025 Liputan6.com

Menurut Perel, keberanian untuk terlibat dalam hal-hal yang belum dikenal dapat meningkatkan rasa percaya diri. Ini sangat penting karena memasuki dunia kerja berarti kita akan berinteraksi dengan orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya.

"Setiap pekerjaan pertama adalah serangkaian percakapan dengan orang asing tanpa mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan dari Anda," kata Perel.

Dengan melatih kemampuan berbicara dan membangun rasa percaya, kita dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan bekerja sama demi mencapai tujuan yang sama.

Kemampuan Berbicara dengan Orang Asing

Perel menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengasah kemampuan ini adalah dengan terus berlatih, meskipun pada awalnya mungkin terasa canggung atau tidak nyaman.

Latihan yang konsisten akan membantu kita merasa lebih nyaman saat berkomunikasi dengan orang asing, sehingga dapat meningkatkan peluang kita dalam dunia kerja.

Dengan demikian, keberanian untuk mencoba hal-hal baru dan berlatih secara teratur akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan keterampilan interpersonal kita.

Keterampilan Sepele, tapi Penting untuk Gen Z di Dunia Kerja
Ilustrasi ngobrol, bicara, komunikasi, menyapa. (Image by freepik) © 2025 Liputan6.com

Cobalah untuk menyisihkan sedikit waktu dari rutinitas harianmu guna menjauhkan pandangan dari layar ponsel dan mulai berinteraksi dengan orang di sekitar, seperti saat menunggu di antrean toko atau ketika memesan kopi.

Memang, berbicara dengan orang yang tidak dikenal bisa terasa canggung.

Seperti yang diungkapkan oleh Esther Perel, rasa tidak nyaman adalah "bagian dari kehidupan," dan satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan terus berusaha hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Selain itu, Simon Sinek juga memberikan saran yang sederhana untuk membangun hubungan dengan rekan kerja baru, yakni dengan meminta bantuan.

Dia berpendapat bahwa banyak orang keliru beranggapan bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan.

Faktanya, ketika seseorang diminta bantuan, mereka cenderung merasa lebih dihargai dan dipercaya. Dengan demikian, interaksi semacam ini dapat memperkuat hubungan sosial dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih kolaboratif.

Keterampilan Sepele, tapi Penting untuk Gen Z di Dunia Kerja
Ilustrasi ngobrol, bicara, komunikasi, menyapa. (Image by freepik) © 2025 Liputan6.com

Selain itu, terdapat berbagai tips yang dapat membantu meningkatkan kemampuan dalam melakukan percakapan santai.

Salah satunya adalah dengan mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam atau memberikan respons yang disertai informasi tambahan agar percakapan dapat terus berjalan dengan lancar.

Perel memprediksi bahwa kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif akan semakin menjadi keunggulan kompetitif, terutama di zaman di mana AI mengambil peran besar dalam interaksi di tempat kerja.

Ia memberikan contoh bahwa meskipun seseorang dapat menggunakan chatbot AI untuk menulis permintaan maaf, hal tersebut tidak akan memiliki makna yang dalam jika orang tersebut tidak benar-benar merasakan penyesalan atau berkomitmen untuk mengubah cara mereka berinteraksi dengan orang lain.

"Di situlah letak keunggulan kompetitifnya," ujar Perel. "Inilah hal yang sebenarnya sangat dibutuhkan orang untuk bisa saling mendukung."

Rekomendasi