Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, secara aktif menggalakkan gerakan menanam sayur-sayuran sebagai strategi utama untuk memenuhi kebutuhan pangan di tingkat keluarga. Inisiatif ini memanfaatkan secara optimal lahan pekarangan rumah warga, mengubahnya menjadi sumber ketahanan pangan mandiri. Program inovatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar dan menekan biaya belanja kebutuhan dapur harian.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Palu, Rahmad Mustafa, menekankan pentingnya kemandirian pangan yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Dengan menanam aneka ragam komoditas pangan di pekarangan, masyarakat dapat secara langsung berkontribusi pada stabilitas ekonomi rumah tangga. Gerakan ini juga menjadi bagian integral dari upaya Pemkot Palu dalam mengendalikan inflasi daerah.
Program yang diberi nama "Palu mandiri tangguh pangan" ini melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, baik secara individu maupun melalui kelompok tani di 46 kelurahan. Meskipun lahan pertanian di Kota Palu terbatas, pemerintah terus berupaya menggenjot produksi pertanian lokal. Hal ini diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga dan memastikan ketersediaan konsumsi pangan yang stabil.
Advertisement
Advertisement
Mewujudkan Kemandirian Pangan Palu dari Lingkungan Keluarga
Program "Palu mandiri tangguh pangan" merupakan pilar utama dalam strategi Pemerintah Kota Palu untuk mencapai kemandirian pangan. Inisiatif ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan konsumsi pangan mereka sendiri. Pemanfaatan pekarangan rumah menjadi kunci keberhasilan program ini, di mana setiap jengkal lahan dapat diubah menjadi kebun produktif.
Rahmad Mustafa menjelaskan bahwa kemandirian pangan harus diwujudkan mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Dengan menanam berbagai jenis komoditas pangan, keluarga dapat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini tidak hanya berdampak pada penghematan biaya, tetapi juga menjamin ketersediaan bahan pangan segar dan sehat bagi anggota keluarga.
Untuk memastikan jangkauan program yang luas, Pemkot Palu terus menggenjot implementasinya dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Partisipasi tidak hanya terbatas pada individu, melainkan juga melalui pembentukan dan penguatan kelompok tani atau gabungan kelompok tani di seluruh 46 kelurahan di Kota Palu. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan dan mandiri.
Advertisement
Meskipun Kota Palu memiliki keterbatasan lahan pertanian yang luas, pemerintah tetap optimis dapat meningkatkan produksi pertanian lokal. Produksi yang dihasilkan dari gerakan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarga. Lebih dari itu, program ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan konsumsi pangan keluarga dapat terpenuhi secara mandiri dan berkelanjutan.
Advertisement
Fokus Komoditas dan Pengendalian Harga Bahan Pokok
Gerakan tanam sayuran yang digalakkan di Palu saat ini didominasi oleh komoditas cabai, yang merupakan salah satu bahan pokok penting dalam rumah tangga. Program inovasi dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Palu ini menargetkan pemenuhan stok cabai di awal tahun 2025. Untuk mencapai target tersebut, Pemkot Palu menggandeng Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di delapan kecamatan, dengan menyiapkan kurang lebih 4.000 bibit cabai.
Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu, harga rata-rata cabai rawit di pasar lokal berkisar antara Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Hingga akhir Agustus ini, harga cabai relatif stabil, menunjukkan efektivitas awal dari upaya pengendalian inflasi. Program "Palu mandiri tangguh pangan" ini terus menjadi andalan pemerintah kota, dengan penguatan berkelanjutan melalui Dinas Pertanian setempat.
Meskipun sebagian besar harga bahan pokok penting di pasaran relatif stabil, Rahmad Mustafa mengungkapkan bahwa satu komoditas, yaitu bawang merah, masih mengalami lonjakan harga hingga Rp60.000 per kilogram. Kondisi ini dipicu oleh sebagian besar pasokan bawang merah yang didatangkan dari luar daerah, seperti Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa. Ketergantungan pada pasokan luar menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga.
Advertisement
Untuk menekan harga bawang merah, Pemkot Palu melakukan berbagai upaya, termasuk kerja sama lintas daerah di bidang pertanian. Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi petani bawang lokal melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan pemerintah setempat. Keberadaan sejumlah petani bawang di Kota Palu menjadi potensi yang terus didorong untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar dan memperkuat Kemandirian Pangan Palu.
Sumber: AntaraNews