Trump Ancam Negara Pendukung BRICS Lewat Tarif Impor Tambahan 10 Persen

BRICS berkomitmen meningkatkan kerja sama ekonomi, politik, dan sosial antar anggota.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
Trump Ancam Negara Pendukung BRICS Lewat Tarif Impor Tambahan 10 Persen
Trump Ancam Negara Pendukung BRICS Lewat Tarif Impor Tambahan 10 Persen (Merdeka.com)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor tambahan sebesar 10 persen terhadap negara-negara yang mendukung kebijakan BRICS, yang ia sebut sebagai kebijakan anti Amerika.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social pada Senin (7/7), bertepatan dengan berlangsungnya pertemuan BRICS di Rio de Janeiro, Brasil.

"Setiap negara yang memihak kebijakan anti-Amerika BRICS akan dikenakan tarif tambahan 10 persen. Tidak akan ada pengecualian untuk kebijakan ini," tulis Trump seperti dikutip dari CNBC.

Trump tidak menjelaskan secara spesifik kebijakan atau tindakan BRICS yang dimaksud sebagai anti-Amerika. Namun, ancaman tersebut disampaikan di tengah upaya kelompok BRICS memperkuat kerja sama negara-negara berkembang dan menantang dominasi ekonomi Barat.

Menanggapi ancaman tersebut, para pemimpin negara anggota BRICS mengeluarkan pernyataan bersama pada 6 Juli 2027, yang mengecam langkah proteksionis dan kebijakan tarif sepihak dari pemerintah AS.

“Kami menentang tindakan proteksionis unilateral yang tidak dapat dibenarkan, termasuk kenaikan tarif timbal balik tanpa pandang bulu,” tulis pernyataan tersebut.

Selain itu, BRICS juga menyatakan dukungan simbolis terhadap Iran, salah satu anggota baru blok tersebut, dan mengecam serangkaian serangan militer terhadap negara itu. Pernyataan tersebut tidak menyebut secara eksplisit Amerika Serikat atau Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia, dan Iran, berkomitmen meningkatkan kerja sama ekonomi, politik, dan sosial antaranggota serta memperkuat pengaruh negara-negara Selatan Global dalam tata kelola internasional.

Blok ini juga tengah mendorong pengurangan ketergantungan pada dolar AS dalam sistem keuangan global, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga think tank Carnegie Endowment for International Peace.

Rekomendasi