Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, baru-baru ini menyoroti krusialnya peran pemerintah daerah (Pemda) dalam menjamin kelancaran distribusi pangan. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta, Kamis, sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan bahan pokok. Hal ini bertujuan untuk memastikan harga tetap stabil di seluruh wilayah Indonesia.
Penegasan tersebut muncul di tengah komitmen Bulog untuk memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Forkopimda dan pelaku masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Selain itu, langkah strategis ini juga bertujuan untuk memperkokoh ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Salah satu contoh nyata dari sinergi ini terlihat di Kabupaten Sidoarjo, di mana Pemkab Sidoarjo memberikan dukungan penuh. Mereka mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membeli beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Gerakan Pangan Murah (GPM). Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lokal dapat mendukung stabilisasi harga pangan.
Advertisement
Advertisement
Sinergi Bulog dan Pemda: Kunci Stabilisasi Harga
Perum Bulog secara konsisten mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah, dalam upaya menjaga stabilitas harga pangan. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terhadap pendistribusian beras SPHP menjadi bukti nyata kolaborasi yang efektif. Ini adalah langkah penting untuk memastikan pasokan pangan tetap terjaga.
Pemkab Sidoarjo proaktif mendorong seluruh ASN di lingkungannya untuk berpartisipasi dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan Bulog Kantor Cabang Surabaya. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Delta Wibawa, Kabupaten Sidoarjo, pada tanggal 4, 8, 9, dan 10 September. GPM tidak hanya melayani ASN, tetapi juga warga sekitar, menunjukkan kepedulian Pemerintah terhadap stabilisasi harga.
Melalui GPM ini, ASN dan warga sekitar dapat memperoleh beras SPHP dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp60.000 per kemasan 5 kilogram. Menurut Rizal, kolaborasi semacam ini bukan sekadar distribusi beras untuk menjaga stabilitas harga, melainkan wujud nyata gotong royong. "Semoga hal ini dapat dilakukan dan ditiru di daerah lainnya, sehingga kondisi semakin kondusif,” ujar Rizal.
Advertisement
Inisiatif seperti GPM di Sidoarjo adalah contoh bagaimana sinergi antara Bulog dan pemerintah daerah mampu menciptakan dampak positif. Ini membantu menjaga ketenangan masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan. Keberhasilan model ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.
Advertisement
Dampak Positif Kolaborasi Lokal Terhadap Ketahanan Pangan
Upaya stabilisasi harga melalui pendistribusian beras SPHP tidak hanya terbatas pada GPM yang dilakukan Pemkab Sidoarjo. Berbagai kegiatan lain yang melibatkan banyak massa juga turut mendukung program ini. Hal ini menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga ketersediaan pangan.
ASN Pemkab Sidoarjo bersama TNI-Polri, Mahasiswa IMM, serta komunitas lainnya aktif terlibat dalam penyaluran beras SPHP dan aksi solidaritas di daerah tersebut. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat ini memperkuat jangkauan distribusi. Ini sekaligus memastikan beras SPHP dapat diakses oleh lebih banyak lapisan masyarakat.
Kolaborasi yang erat antara Bulog, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, program-program stabilisasi harga dapat berjalan lebih efektif. Ini membantu menciptakan ekosistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Advertisement
Berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), realisasi penjualan beras SPHP secara nasional menunjukkan progres yang signifikan. Untuk periode Juli-Desember, per 3 September, telah mencapai 126,2 ribu ton. Meskipun target hingga akhir 2025 adalah 1,3 juta ton, angka ini menunjukkan upaya serius dalam menjaga pasokan pangan.
Sumber: AntaraNews