Perang Dagang Makin Sengit, Trump Tiba-Tiba Naikkan Tarif Impor dari China Jadi 245 Persen

Ketegangan dalam perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia semakin meningkat akibat keputusan yang diambil oleh Amerika Serikat.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
Perang Dagang Makin Sengit, Trump Tiba-Tiba Naikkan Tarif Impor dari China Jadi 245 Persen
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Dok. AP Photo/Charlie Neibergall) (© 2025 Liputan6.com)

Gedung Putih Amerika Serikat (AS) tiba tiba mengumumkan bahwa, China sekarang menghadapi tarif impor yang mencapai 245 persen. Ini merupakan dampak dari langkah balasan yang diambil oleh China beberapa waktu lalu.

Ketegangan dalam perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia semakin meningkat akibat keputusan yang diambil oleh Amerika Serikat. Mengacu pada laporan dari Newsweek, tarif tertinggi yang sebelumnya diumumkan adalah 145 persen, seperti yang tertera dalam lembar fakta yang dirilis oleh Gedung Putih pada malam sebelumnya.

Tarif ini juga terkait dengan perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump, yang memulai penyelidikan mengenai 'risiko keamanan nasional yang muncul akibat ketergantungan AS pada mineral penting yang diimpor dan produk turunannya'.

Berdasarkan informasi dari Anadolu Ajansi, perintah tersebut juga menjelaskan tarif timbal balik yang diumumkan pada tanggal 2 April.

"Saat ini, China menghadapi tarif hingga 245 perssen untuk barang-barang yang diimpor ke Amerika Serikat sebagai respons terhadap tindakan pembalasan mereka," ungkap Gedung Putih.

"Sejak hari pertama, Presiden Trump telah meluncurkan kebijakan perdagangan America First untuk memulihkan kejayaan ekonomi Amerika Serikat," demikian kutipan yang disampaikan.

"Lebih dari 75 negara telah menghubungi untuk membahas kemungkinan kesepakatan perdagangan baru. Oleh karena itu, tarif yang lebih tinggi untuk negara lain saat ini ditangguhkan, kecuali untuk China yang melakukan pembalasan," lanjut pernyataan tersebut.

"Beberapa bulan lalu, China telah melarang ekspor gallium, germanium, antimon, dan berbagai material berteknologi tinggi lainnya yang memiliki potensi aplikasi militer ke Amerika Serikat," tambah pernyataan tersebut.

"Baru-baru ini, China juga menghentikan ekspor enam logam tanah jarang berat dan magnet tanah jarang, yang sangat penting bagi produsen mobil, perusahaan kedirgantaraan, perusahaan semikonduktor, dan kontraktor militer di seluruh dunia," seperti yang diungkapkan.

Meskipun pernyataan tersebut tidak merinci tarif yang akan dikenakan oleh China, namun ada indikasi bahwa tarif tersebut bisa meningkat hingga 245 persen. Sebagai balasan, China telah menaikkan tarif impor barang-barang dari AS menjadi 125 persen pada Jumat lalu, setelah Trump menaikkan tarif AS atas barang-barang dari China menjadi 145 persen, sambil menangguhkan sementara pungutan yang direncanakan untuk barang dari negara lain selama 90 hari.

Hal Ini Sangat Penting

AS-China Memanas Lagi, Menkeu Purbaya: Biar Saja Berantem, Indonesia Justru Untung
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Liputan6.com/Arief RH © 2025 Liputan6.com

Perang dagang antara China dan Amerika Serikat telah mengguncang pasar global, menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak ekonomi dari konflik tersebut serta berbagai tindakan yang diambil oleh Trump terhadap mitra dagang AS. Pemutusan hubungan impor dengan China telah menyulitkan rantai pasokan di AS, menyebabkan peningkatan biaya dan memaksa perusahaan untuk mencari sumber alternatif.

Selain itu, konsumen juga harus menghadapi harga yang semakin tinggi. Strategi yang diterapkan Trump adalah dengan mengenakan tarif untuk menarik lebih banyak investasi di sektor manufaktur ke dalam negeri.

Bagi banyak eksportir China, kehilangan akses ke pasar AS adalah pukulan berat, sehingga mereka harus mencari peluang pertumbuhan di pasar lain, seperti di Uni Eropa. Ekonomi China, yang sangat bergantung pada ekspor, telah mengalami pelambatan.

Namun, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap China, mendorong mitra dagangnya untuk memilih antara bekerja sama dengan China atau AS.

Tanggapan China

Donald Trump Naikkan Tarif Impor China Jadi 245%, Ini Alasannya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Dok. AP Photo/Charlie Neibergall) © 2025 Liputan6.com

Mengenai tarif 245 persen yang diumumkan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut sebaiknya diajukan kepada pihak Amerika Serikat.

"Anda dapat bertanya kepada pihak AS mengenai angka tarif pajak yang spesifik," ungkap Lin sesuai dengan laporan dari China News Network yang dikutip oleh Newsweek.

Dia menegaskan bahwa China telah berulang kali mengungkapkan posisi seriusnya terkait isu tarif. Menurutnya, perang tarif ini dimulai oleh Amerika Serikat, dan tindakan balasan yang diambil oleh China adalah untuk melindungi hak serta kepentingan sahnya, serta untuk memastikan keadilan dan kewajaran internasional yang sepenuhnya dapat dipahami dan dibenarkan.

Dalam konteks ini, Trump telah memberlakukan tarif sebesar 10 persen pada semua impor dari berbagai negara. Dia juga membuat langkah yang mengejutkan dengan menangguhkan sementara tarif timbal balik tambahan yang ditetapkan untuk setiap negara, bergantung pada hambatan perdagangan yang dihadapi oleh AS, untuk memberikan waktu bagi negosiasi kesepakatan baru.

Namun, China tidak termasuk dalam jeda tersebut, dan negara ini menghadapi tarif yang semakin meningkat dari AS, yang telah direspons dengan tindakan serupa, di antara langkah balasan lainnya.

Minggu ini, China juga menerapkan kontrol ekspor lebih ketat terhadap bahan-bahan langka, yang digunakan dalam produk teknologi tinggi, industri kedirgantaraan, dan sektor pertahanan. Pemerintahan Trump telah memperingatkan negara-negara agar tidak membalas tarif yang dikenakan, dengan ancaman bahwa mereka akan mendapatkan konsekuensi jika melakukannya.

Rekomendasi