Suasana padat terjadi di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Minggu 6 April 2025 meski sudah memasuki H+6 Lebaran.
Seorang pemudik wanita paruh baya terlihat sedang berjalan tertatih-tatih menggendong tas berukuran besar. Di kedua tangannya dia menggenggam oleh-oleh yang dibungkus rapi kardus bekas mi instan.
Tak lama kemudian pria berseragam merah bertuliskan porter di punggungnya mencoba menawarkan jasa angkut barang. Bak gayung bersambut, wanita itu mengiyakan tawaran dengan segera.
Pria tersebut bernama Achmad (35) berasal dari Blora, Jawa Tengah. Dengan suara bergetar, ia mengaku telah menekuni profesi sebagai porter atau kuli angkut sejak delapan tahun silam.
"Ini tahun kedelapan jadi porter angkut barang," kenangnya kepada merdeka.com.
Awal mula dirinya menjadi porter berasal dari ajakan teman seprofesinya. Profesi kuli angkut barang itu cocok dengan kepribadiannya yang cenderung memilih bekerja dengan aktivitas fisik ketimbang memutar otak.
Momen lebaran ini Achmad memilih untuk mengais rupiah, ketimbang berkumpul bersama keluarga saat hari kemenangan tiba. Alasannya, dompetnya bisa menebal hingga dua kali lipat saat momen mudik. Padahal, pendapatannya di luar musim lebaran rata-rata sekitar UMR pekerja ibu kota per bulannya.
"Kalau lebaran kita gas terus aja. Alhamdulillah pendapatan bisa naik 2 kali lipat," kata Achmad dengan keringat membasahi dahinya.
Dia mengungkapkan alasannya tetap bekerja selama lebaran di ibu kota demi membelikan baju baru untuk anak semata wayangnya di Blora, Jawa Tengah. Baginya menyaksikan anaknya berpakaian rapi di hari kemenangan menjadi kepuasan batinnya.
Sedianya, Achmad berencana pulang ke kampung halaman jika musim mudik lebaran ini telah berakhir. Hal ini rutin dilakukannya setiap lebaran tiba demi baju baru untuk si buah hati.
"Kalau buat saya yang penting keluarga bahagia. Terutama anak bisa beli baju baru. Kalau saya masalah pulang belakangan aja," tandasnya.
Advertisement