Nama Firdaus Oiwobo kembali menarik perhatian publik setelah aksinya yang viral saat naik ke meja sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Kamis, 6 Februari 2025. Dia merupakan kuasa hukum Razman Nasution dalam kasus pencemaran nama baik yang melibatkan Hotman Paris Hutapea.
Dalam sidang tersebut, Firdaus Oiwobo melakukan aksi tersebut ketika terjadi kericuhan, yang langsung menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk pejabat tinggi di bidang hukum.
Firdaus bukanlah sosok baru dalam dunia hukum, dia dikenal sebagai pengacara yang sering terlibat dalam berbagai kasus kontroversial, baik sebagai kuasa hukum maupun sebagai penggugat.
Belum lama ini, dia kembali menjadi sorotan publik saat mengklaim bahwa dirinya lebih kaya dibanding Hotman Paris. Dalam sebuah video, dia mengaku memiliki gunung di dekat BSD serta Gunung Uranium.
"Saya punya gunung kok. Di BSD, deket BSD, saya punya gunung," ungkapnya dalam video yang dikutip pada Sabtu (14/2).
Selain di BSD, dia juga mengklaim memiliki gunung di Dompu, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Kami punya gunung sekarang ini 2 juta metrik ton di dalamnya uranium. Gunung para sultan di Dompu," tambahnya.
Menurutnya, uranium tersebut dapat digunakan untuk menghidupi masyarakat dunia selama 1.000 tahun.
Apakah benar klaim Firdaus Oiwobo tersebut?
Jika dihitung, 1 metrik ton setara dengan 1.000 kilogram, sehingga 2 juta metrik ton sama dengan 2.000.000.000 Kg atau 2 miliar Kg. Ukuran uranium biasanya dinyatakan dalam pon. Dengan konversi, 1 Kg setara dengan 2,2046 pon, maka 2 miliar Kg akan mencapai kurang lebih 4.409.245.243,698 pon atau sekitar 4,4 miliar pon.
Saat ini, harga kontrak berjangka uranium berada di kisaran USD 67,50 per pon. Jika angka tersebut dikalikan dengan 4,4 miliar pon, totalnya mencapai USD 297 miliar atau Rp4.839 triliun (berdasarkan estimasi kurs Rp 16.260 per USD).
Pertanyaannya, apakah Rp4.839 triliun cukup untuk menghidupi masyarakat dunia selama 1.000 tahun?
Advertisement
Uranium merupakan logam berat yang memiliki sifat radioaktif dan banyak dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam pembangkit listrik tenaga nuklir. Secara alami, uranium terdapat dalam bijih mineral seperti uraninit dan memiliki beberapa isotop, di mana U-235 menjadi isotop yang paling signifikan karena kemampuannya dalam proses fisi nuklir.
Di pasar komoditas, uranium diperdagangkan dalam bentuk yellowcake (U3O8), dan harganya sering dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan energi nuklir global, ketegangan geopolitik, serta pasokan yang berasal dari negara-negara penghasil utama seperti Kazakhstan, Kanada, dan Australia.
Saat ini, harga uranium menunjukkan tren peningkatan seiring dengan bertambahnya permintaan dari industri nuklir yang berkembang, terutama di negara-negara seperti China dan India, ditambah dengan adanya keterbatasan pasokan akibat pembatasan produksi oleh beberapa perusahaan tambang besar.
Di Indonesia, keberadaan uranium dapat ditemukan di beberapa wilayah, terutama di daerah yang memiliki aktivitas geologi yang kompleks. Berikut adalah beberapa lokasi utama di Indonesia yang dikenal memiliki potensi uranium:
1. Kalimantan Barat
Melawi dan Ketapang -- Daerah ini diyakini memiliki potensi uranium yang terkandung dalam batuan granit serta endapan sekunder.
2. Bangka Belitung
Pulau Bangka & Pulau Belitung -- Lokasi ini pernah menjadi tempat eksplorasi oleh BATAN (sekarang BRIN) karena terdapat mineral uranium dalam endapan timah.
3. Sulawesi
Mamuju, Sulawesi Barat -- Daerah ini diketahui memiliki tingkat radiasi alami yang tinggi, yang menunjukkan adanya potensi uranium dan thorium dalam batuan.
4. Papua
Pegunungan Jayawijaya -- Beberapa penelitian menunjukkan indikasi potensi uranium, namun pengembangannya belum dilakukan lebih lanjut. Meskipun demikian, eksplorasi uranium di Indonesia masih terbatas karena regulasi yang ada dan fokus energi nasional yang lebih mengarah kepada energi terbarukan.