Batavia Air, Agen Perjalanan Rambah Bisnis Penerbangan Hingga Berujung Bangkrut

Sebelum menjadi perusahaan maskapai penerbangan, Batavia Air merupakan sebuah usaha yang bergerak di bidang jasa agen perjalanan. Hingga akhirnya pendiri dari Batavia Air, Yudiawan Tansari ‘meng-upgrade’ skala bisnisnya dari sebatas agen perjalanan menjadi perusahaan maskapai.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Batavia Air, Agen Perjalanan Rambah Bisnis Penerbangan Hingga Berujung Bangkrut
Batavia Air. wordpress.com

Sudah menjadi pengetahuan umum, investasi bisnis industri penerbangan amat mahal. Persaingan sengit, dan tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan bisnis ini, menjadi satu di antara banyaknya faktor perusahaan maskapai bangkrut.

Seperti yang terjadi pada Batavia Air. Sebelum menjadi perusahaan maskapai penerbangan, Batavia Air merupakan sebuah usaha yang bergerak di bidang jasa agen perjalanan. Hingga akhirnya pendiri dari Batavia Air, Yudiawan Tansari ‘meng-upgrade’ skala bisnisnya dari sebatas agen perjalanan menjadi perusahaan maskapai.

Batavia Air terbentuk pada tahun 2001 dengan nama perusahaan PT Metro Batavia. Operasional perdana perusahaan ini pada 5 Januari tahun 2002, dengan satu buah pesawat jenis Fokker F28 dan dua unit Boeing 737-200. Sebelum beroperasi secara komersial, Batavia merupakan penyedia penyewaan pesawat.

Bergerak sebagai perusahaan maskapai, Yudiawan fokus terhadap pelayanan konsumen. Sehingga selama beroperasi, Batavia Air tidak gencar memberikan promosi. Maskapai ini justru memilih pasar dengan kelas menengah yaitu layanan standar, tidak murah dan tidak eksekutif.

Kinerja Batavia Air cukup cemerlang. Selain mengudara di langit domestik, pada tahun 2003 maskapai ini juga membuka rute Jakarta-Guangzhou, Jakarta-Pontianak-Kuching dan Jakarta-Denpasar-Perth.

Tingginya mobilitas turut menambah armada maskapai. Tercatat, Batavia Air pernah memiliki 33 pesawat yang melayani penerbangan ke China, Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Arab Saudi.

Dengan jaminan keselamatan yang tinggi, maskapai ini bahkan mengantongi izin penerbangan di Uni Eropa. Izin tersebut tergolong eksklusif mengingat hanya empat maskapai saja yang mendapat izin tersebut di Indonesia, termasuk Garuda dan Lion Air.

Sejak beroperasi pada tahun 2002, Yudiawan memutuskan untuk menjual 100 persen saham perusahaan. Alasannya, persaingan penerbangan di dalam negeri sangat ketat.

"Dengan persaingan ketat, Batavia harus membuat suatu action. Di antaranya perbankan atau partnership. Kami memilih dengan Fernandes menjalankan corporate action ini," ujar dia, Kamis (26/7/2012) lalu.

Tahun 2008 lalu, anak Yudiawan yang juga menduduki direksi Batavia Air, Alice Tansari juga pernah mengungkapkan sang ayah telah berencana untuk menjual saham Batavia kepada perusahaan swasta lain. Namun, Alice mengatakan ayahnya ingin sang pembeli membeli saham Batavia 100 persen.

"Beliau pernah berkata, mempunyai pemilik saham lebih dari satu orang hanya akan menambah perselisihan," kata Alice kepada mergermarket tahun 2008 lalu.

Pada tahun 2012, saham Batavia Air pun dibeli oleh perusahaan yang menaungi maskapai Air Asia. Saat itu, Batavia Air hanya dibeli USD 80 juta atau sekitar Rp762 miliar oleh Air Asia.

Sayangnya, umur Batavia Air tidak panjang. Pada tahun 2013, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan mengabulkan permohonan dari perusahaan sewa guna pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC) yang menggugat pailit PT Metro Batavia selaku operator maskapai penerbangan Batavia Air.

"Mengabulkan permohonan pemohon (ILFC) untuk seluruhnya," ungkap ketua majelis hakim Agus Iskandar di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (30/1).

Dalam amar putusannya, Agus Iskandar menyatakan Batavia Air memenuhi syarat untuk dinyatakan pailit, sesuai dengan UU nomor 37 tahun 2004 tentang kepailitan. "Menyatakan termohon yakni Batavia Metro pailit," tegasnya.

"Telah memenuhi syarat untuk kepailitan, sehingga permohonan tersebut dapat dikabulkan," tambahnya.

IFLR melakukan gugatan pailit terhadap Batavia Air. Batavia 'dibangkrutkan' karena tidak mampu membayar utang jatuh tempo hingga 13 Desember 2012 yang jumlahnya mencapai USD 4,68 juta.

Rekomendasi