Bank Indonesia (BI) mencatat, indikator ketahanan perekonomian Indonesia masih positif dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini juga menanggapi kekhawatiran bahwa Indonesia akan menjadi Sri Lanka di tengah gejolak ekonomi global.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar mengatakan, apa yang terjadi pada Sri Lanka adalah tingkat utang negara yang sangat tinggi. Selain itu, bank sentral negara tersebut sembarangan memberikan kredit, sehingga menjadi tidak terkontrol.
"Gambaran-gambaran ini yang akhirnya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, neraca pembayaran. Sampai akhirnya nilai tukarnya menjadi turun," kata Firman, ditulis Minggu (19/3).
Selain itu, dia memastikan bahwa Indonesia masih jauh dari krisis ekonomi. Sebab, meski pertumbuhan ekonomi menurun, namun bukan berarti bahwa Indonesia memasuki masa krisis.
"Meskipun pertumbuhan ekonominya turun, bukan berarti Indonesia krisis," imbuhnya.