Bisnis di sektor perhotelan porak-poranda selama sejak pandemi Covid-19. Sektor ini menjadi bisnis yang paling awal terdampak sejak kemunculan virus corona di akhir tahun 2019 lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama pandemi berlangsung ada 3.216 usaha akomodasi (perhotelan) yang tutup akibat pembatasan pergerakan masyarakat.
"Beberapa hotel atau akomodasi lainnya menjadi tidak beroperasi atau tutup sehingga mengalami pengurangan jumlah yang cukup besar," tulis BPS dalam laporan Statistik Hotel dan Akomodasi Lainnya di Indonesia 2022 yang baru rilis, Jakarta, Kamis (5/1).
Dalam laporan tersebut, BPS mencatat bisnis perhotelan kala itu tengah menjamur. Sampai tahun 2018 tercatat ada 28.230 usaha penginapan dengan 712.202 kamar di Indonesia.
Dua tahun berselang, pertumbuhan hotel atau penginapan mengalami kenaikan menjadi 30.823 usaha dengan jumlah kamar 870.783. Namun, karena pandemi usaha sektor ini turun 10,43 persen atau 3.216 usaha dengan 158.581 kamar. Sehingga menyisakan 27.607 usaha dengan 718.898 kamar.
Meski begitu, di tahun 2021 dan 2022 sektor ini kembali bangkit seiring dengan pelonggaran kebijakan mobilitas masyarakat. Perekonomian Indonesia juga mulai pulih sehingga usaha akomodasi termasuk perhotelan kembali membaik.
Sampai Desember 2022 tercatat ada 29.742 usaha akomodasi dengan 788.982 kamar. Jumlah usaha akomodasi mengalami peningkatan 7,73 persen di tahun 2022.
"Walaupun belum normal, tercatat sebanyak 29.74 usaha akomodasi atau meningkat 7,73 persen dari tahun 2021," tulis laporan BPS.
Advertisement
PPKM Dicabut
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mencabut kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 30 Desember 2022. Kebijakan ini diambil karena penanganan pandemi terus membaik di sepanjang tahun 2022.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyambut baik pencabutan PPKM. Kebijakan ini dinilai akan mendorong ketahanan (resiliensi) pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan yang dihadapkan dengan ancaman krisis global. Sebab aktivitas masyarakat akan kembali pulih dan normal kembali.
"Responnya dari pengusaha ini menyambut positif banget. Kalau ini terjadi, resiliensi ekonomi ini akan lebih cepat pulihnya," kata Ketua Umum PHRI, Hariyadi Sukamdani saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (30/12).
Dengan kebijakan tersebut, dia yakin berbagai bisnis akan segera pulih, termasuk sektor pariwisata. Mengingat sektor ini yang paling terpuruk sejak munculnya virus corona sampai sekarang.
"Pariwisata ini yang paling terpukul. Kalau PPKM ini dicabut, pulihnya akan cepat," kata dia.