Ketergantungan Indonesia Terhadap Batubara Masih Tinggi

Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Akbar Fadzkurrahman mengungkapkan upaya pengalihan energi bersih Indonesia masih terkendala karena adanya penggunaan batubara yang mendominasi baik dalam struktur ekonomi maupun politik.

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Ketergantungan Indonesia Terhadap Batubara Masih Tinggi
PLTU. ©2021 PLN

Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Akbar Fadzkurrahman mengungkapkan upaya pengalihan energi bersih Indonesia masih terkendala karena adanya penggunaan batubara yang mendominasi baik dalam struktur ekonomi maupun politik.

Dia menjelaskan dengan masih ketergantungan dalam penggunaan batubara tersebut mendapatkan pandangan yang tidak baik dari investor atau kreditor terutama dilihat dari aspek pembangunan berkelanjutan.

"Pembangkit listrik yang di Indonesia punya ketergantungan dengan batubara, dengan penggunaan ini ada konsekuensinya yaitu yang bisa lihat ada sosial dan ada lingkungan sebagai konsekuen yang tidak berkelanjutan," ujar Akbar, di Hotel Ashley, Jakarta, Rabu (26/10).

Selain itu, penggunaan batubara juga menimbulkan risiko finansial yang cukup besar pada pemabmgkit listrik PLN, yakni volatilitas harga batubara di pasar internasional membuat PLN bergantung pada subsidi yang dianggarkan mencapai Rp 56,4 triliun pada tahun 2022.

"PLN memiliki beban lain berupa kontrak jual beli tenaga listrik dengan produsen tenaga listrik swasta dengan PLN yang menggunakan skema take or pay. Padahal IPP yang ada sebagian besar merupakan pebasket listrik dengan tenaga batubara," terang dia.

Dari kondisi tersebut, terdapat potensi kerugian yang dapat berdampak pada pemangku kepentingan, salah satunya adalah pemegang obligasi (surat utang). "Sayangnya, komitmen pemerintah untuk membantu PLN apabila terjadi kesulitan likuiditas, sebagai pemegang obligasi tidak menyadari adanya risiko ini," tutur Akbar.

Rekomendasi