Lebanon menjadi satu di antara negara dunia yang bakal masuk jurang resesi. Tercermin dari nilai tukar mata uangnya, Pound dengan dolar Amerika Serikat (AS) yang terus terdepresiasi.
Senin (17/10) lalu mata uang Pound kembali jatuh ke posisi 40.000 terhadap dolar AS. Padahal dalam beberapa minggu terakhir, mata uang ini bisa bertahan di kisaran 38.000 terhadap dolar AS.
Merosotnya nilai tukar Lebanon sudah terjadi sejak sebelum pandemi melanda dunia. Negara ini gagal mengurus keuangannya sejak 3 tahun lalu karena gejolak keuangan dan politik.
"Pound merosot lebih jauh ketika negara itu, dipimpin oleh pemerintah sementara," dikutip dari laporan yang dibuat Al-Arabiya, Selasa (18/10).
Bahkan hingga menuju pemilihan presiden bulan depan, parlemen setempat malah terpecah yang telah berulang kali. Akibatnya, mereka gagal mencapai konsensus tentang pemimpin baru.
Pound Lebanon telah secara resmi dipatok pada 1.507 terhadap dolar sejak 1997. Tingkat nilai tukar ini tidak mencerminkan nilai pasar sebenarnya selama bertahun-tahun. Sebab mata uang mereka telah jatuh bebas, dengan beberapa nilai tukar paralel yang hidup berdampingan.
Advertisement
Setelah bertahun-tahun salah urus ekonomi dan korupsi endemik, Lebanon tenggelam ke dalam krisis keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada akhir 2019. Bahkan Bank Dunia menjulukinya sebagai salah satu yang terburuk di dunia dalam sejarah baru-baru ini.
Akibatnya, krisis ini telah mendorong sebagian besar orang Lebanon masuk dalam kemiskinan. Sementara itu, pembicaraan pemerintah setempat dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membuka pinjaman dana terhenti.
Hal ini terjadi karena para pemimpin Lebanon tidak dapat memberlakukan sebagian besar reformasi yang diminta oleh pemberi pinjaman dan negara-negara donor.
"Jika pound terus jatuh, itu cukup sederhana karena tidak ada rencana reformasi global," kata analis Michel Fayad.
Level terendah baru juga bertepatan dengan minggu penutupan sebagian bank. Ini terjadi setelah gelombang deposan yang putus asa melakukan penahanan di bank mereka sendiri untuk menuntut akses ke tabungan mereka, yang dibekukan selama bertahun-tahun.
Advertisement
Sebagai informasi, sejak 2019 bank-bank Lebanon secara bertahap memberlakukan kontrol ketat pada simpanan atau tabungan. Hal itu telah membuat jutaan pelanggan dari tabungan mata uang asing mengalami keterbatasan akses akibat tabungan mereka yang terkunci.
Mengutip Kantor berita Al Jazeera, mereka mencontohkan bahwa setiap kali penarikan uang, harganya akan jauh lebih rendah dari nilai pasar. Misalnya, jika uang yang ingin ditarik adalah USD 700, maka bank hanya akan memberikan uang sejumlah USD 200. Di Lebanon itu disebut sebagai potongan rambut de facto.
Potongan rambut dalam istilah ekonomi berarti pengurangan yang diterapkan pada nilai aset. Dalam hal ini, itu mengacu pada nilai tukar bank yang sangat tidak menguntungkan dalam pound Lebanon ketika nasabah mencoba menarik uang tunai.
Kasus pertama yang diketahui adalah tentang seseorang yang secara paksa mendapatkan kembali dana milikinya. Berita itu dilaporkan pada bulan Januari. Pada kejadian tersebut seorang pria menyandera puluhan orang di Lebanon timur setelah dia diberitahu bahwa dia tidak dapat menarik tabungan mata uang asingnya.
Media lokal melaporkan bahwa pelanggan akhirnya diberikan sebagian dari tabungannya dan diserahkan kepada pasukan keamanan.
Kemudian pada bulan Agustus, seorang pria bersenjata juga menyandera karyawan dan pelanggan di sebuah bank Beirut. Setelah dia diberitahu bahwa dia tidak dapat menarik USD 200.000 dari rekeningnya untuk perawatan ayahnya yang sakit.
Pada hari Rabu selanjutnya, seorang pria bersenjata lainnya memasuki cabang Bank Med di kota pegunungan Aley di Lebanon dan berusaha untuk mengambil kembali tabungannya.