Lonjakan Kasus Covid-19 Dinilai Tak Ganggu Pemulihan Ekonomi Selama RS Tak Penuh

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto melaporkan per 3 Juli 2022 kasus baru harian Covid-19 tercatat 1.614 kasus. Sementara jumlah kasus dalam sepekan terakhir sebanyak 1.939 kasus. Dia menyebut sebagian besar kasus yang terkonfirmasi varian baru Omicron yakni BA.4 dan BA.5.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Lonjakan Kasus Covid-19 Dinilai Tak Ganggu Pemulihan Ekonomi Selama RS Tak Penuh
Covid-19. ©2020 Merdeka.com

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto melaporkan per 3 Juli 2022 kasus baru harian Covid-19 tercatat 1.614 kasus. Sementara jumlah kasus dalam sepekan terakhir sebanyak 1.939 kasus. Dia menyebut sebagian besar kasus yang terkonfirmasi varian baru Omicron yakni BA.4 dan BA.5.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto selama kenaikan kasus ini tidak membuat rumah sakit penuh dan gejala berat, maka diperkirakan dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap perekonomian nasional.

"Jika kenaikan Omicron ini tidak menyebabkan rumah sakit penuh karena gejala berat Covid, maka kemungkinan dampaknya mirip dengan kasus Omicron sebelumnya," kata Eko saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Selasa (5/7).

Sehingga dampak terhadap ekonomi diperkirakan relatif lebih kecil, terutama ketika dibandingkan dengan penyebaran varian delta setahun lalu. Berdasarkan data yang disampaikan Airlangga, mayoritas kasus aktif berada di kawasan Jawa-Bali. Hampir 95 persen kasus aktif menjangkiti Jawa-Bali.

Eko menilai wilayah Jawa-Bali menjadi kontributor terbesar ekonomi nasional. Sehingga jika pemerintah menerapkan kebijakan peningkatan level PPKM hingga ke level IV, maka dampaknya terhadap momentum pemulihan ekonomi akan langsung terasa.

"Jika sampai pengetatan di level yang membatasi pergerakan orang (PPKM level 4), maka ekonomi memang bisa melambat akibat kenaikan kasus Covid," kata dia.

Sebagai informasi, kenaikan kasus aktif Covid -19 juga tengah dialami sejumlah negara lainnya. Kasus di Amerika Serikat tercatat 106.304, Australia 32.116 kasus dan India 16.065 kasus. Begitu juga dengan negara-negara di Asia Tenggara, Singapura tercatat sebanyak 8.266 kasus, Malaysia 2.0384 kasus, dan Thailand 2.278 kasus.

Rekomendasi