Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan realisasi subsidi per April tahun ini mencapai Rp56,62 triliun. Angka ini meliputi Rp10,17 triliun untuk kurang bayar tahun sebelumnya dan Rp46,45 triliun untuk subsidi reguler.
Realisasi ini naik dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp40,73 triliun meliputi Rp32,78 triliun subsidi reguler dan Rp7,95 triliun untuk kurang bayar tahun sebelumnya. Meningkat juga dibanding tahun 2020 sebesar Rp32,83 triliun, meliputi Rp30,36 triliun subsidi reguler dan Rp2,47 triliun untuk kurang bayar sedangkan realisasi subsidi 2019 juga rendah yaitu Rp37,95 triliun.
Dia menjelaskan, realisasi subsidi yang tinggi ini karena adanya kenaikan ICP, percepatan pencairan kurang bayar subsidi energi dan peningkatan volume penyaluran barang bersubsidi.
"Untuk belanja subsidi di jalur perlinsos cukup besar lonjakannya karena konsekuensi dari harga-harga (yang naik)," kata Sri Mulyani dalam dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Jakarta, dikutip Antara, Senin (23/5).
Selain itu, kenaikan harga komoditas telah berdampak terhadap meningkatnya beban subsidi BBM dan LPG sehingga realisasinya mencapai 44,8 persen dari pagu APBN 2022. Kompensasi BBM Rp18,1 triliun pun telah dibayarkan untuk memenuhi kewajiban pemerintah aras penugasan penyediaan pasokan BBM dalam negeri.
Untuk realisasi subsidi per April meliputi BBM yakni solar dan minyak tanah sebanyak 4,1 juta kiloliter, LPG tiga kilogram sebanyak 1,9 juta kilogram dan 38,4 juta pelanggan listrik bersubsidi.
Subsidi pun juga diberikan untuk non energi berupa penyaluran pupuk mencapai 3 juta ton, debitur KUR sebanyak 2,7 juta, kredit KUR sebanyak Rp125,6 triliun dan subsidi perumahan sebanyak 38,4 ribu unit.