Presiden Jokowi: Hati-Hati dengan Kenaikan Harga BBM dan Elpiji

Jokowi melihat, harga minyak dunia sudah bergejolak sebelum perang karena adanya kelangkaan. Ditambah perang, harganya semakin meroket hingga di atas USD 100 per barel.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Presiden Jokowi: Hati-Hati dengan Kenaikan Harga BBM dan Elpiji
Presiden Jokowi. ©2022 Merdeka.com/Istimewa

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta sektor terkait untuk lebih hati-hati dalam mencermati situasi di tengah memanasnya dunia saat ini. Khususnya terkait harga minyak dunia akibat dampak perang Rusia vs Ukraina, yang membuat harga BBM dan LPG dalam negeri turut terpengaruh.

Jokowi melihat, harga minyak dunia sudah bergejolak sebelum perang karena adanya kelangkaan. Ditambah perang, harganya semakin meroket hingga di atas USD 100 per barel.

"Sekarang harga per barel sudah di atas USD 100, yang sebelumnya hanya USD 50-60. Semua negara yang namanya harga BBM naik semua, LPG naik semuanya," kata Jokowi di acara pembukaan rapat pimpinan TNI-Polri 2022, Selasa (1/3).

Namun, Jokowi turut mewanti-wanti kenaikan harga BBM dan LPG di pasar domestik. "Hati-hati dengan ini, hati-hati dengan ini. Kenaikan kenaikan kenaikan, karena semuanya bisa naik, ini yang terjadi," imbuhnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tak ingin kenaikan harga dua komoditas energi itu dilakukan gegabah. Sebab akan berimbas pada kenaikan harga di sektor lainnya.

Dalam hal ini, Jokowi mencontohkan kenaikan harga produsen. Itu terjadi saat pabrik mogok produksi akibat harga BBM melonjak, dan membuat ongkos produksi merugi.

"Artinya apa? ongkos produksi naik, terus harga di pabriknya menjadi jauh lebih tinggi. Terus dikirim ke pasar, berarti harga konsumennya juga nanti akan naik. Ini efek berantainya seperti ini," tegasnya.

"Supaya kita ngerti betapa ketidakpastian menimbulkan tantangan-tantangan yang tidak mudah," seru Jokowi.

Harga gas non-subsidi produksi PT Pertamina dengan merek dagang Bright Gas ukuran 12 kilogram di tingkat agen gas Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menembus Rp199.000 dari semula Rp175.000 atau naik sebesar Rp24.000.

"Harga eceran di pedagang, mereka jual Rp175.000. Kami jual ke mereka paling bedanya Rp2.000-3.000 saja. Nah sekarang ada kenaikan Rp24.000 atau jadi Rp199.000. Mungkin pedagang nanti jual bisa lebih dari Rp200.000,” kata pegawai agen gas di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi Adi dikutip dari Antara, Selasa (1/3).

Dia mengatakan, kenaikan harga gas non-subsidi ditetapkan PT Pertamina untuk produk Bright Gas 5,5 kilogram, Bright Gas 12 kilogram, serta elpiji 12 kilogram sejak akhir pekan kemarin.

"Pengumuman kenaikan harga ini baru keluar Minggu kemarin. Karena sampai kemarin kami tutup, jadi mulai hari ini," katanya.

Dia mengaku kenaikan harga ini belum diketahui oleh seluruh masyarakat pengguna gas non-subsidi. Beberapa dari mereka kaget saat mengetahui harga Bright Gas 12 kilogram mencapai Rp199.000.

"Di sini kami hanya jual yang 12 kilogram sama gas subsidi tiga kilogram saja. Baru ada dua tabung yang keluar. Mereka ya kaget pas mau beli kok harganya naik. Karena langsung Rp24.000 naiknya," katanya.

Adi mengatakan peminat gas non subsidi di sekitar tempatnya berjualan sangat sedikit sebab kebanyakan warga lebih memilih menggunakan gas subsidi tiga kilogram.

Dia memprediksi kenaikan harga Bright Gas akan mempengaruhi jumlah penjualan. "Biasanya sebelum naik, minimal kami seminggu sekali baru isi barang Bright Gas. Kalau sekarang naik, kemungkinan baru isi barangnya bisa lebih dari seminggu," ucapnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi