Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi menyoroti, surplus neraca perdagangan 2020 sebesar USD 21,7 miliar yang dinilainya tidak mengenakan. Menurut dia, banyak sisi minus dalam perhitungan tersebut yang justru menandakan perekonomian Indonesia pada tahun lalu dalam kondisi lemah.
"Karena surplus kita kali ini bukan surplus yang enak, bukan surplus yang seperti tahun 2012. Bahkan ini adalah kebalikan kebalikannya menunjukkan bahwa ekonomi kita ini sedang lemah, dan ekonomi kita ini kalau lagi lari maraton sedang terkilir kakinya," ujar Mendag Lutfi dalam sesi teleconference, Rabu (27/1).
Maka dari itu, sektor konsumsi jadi pilar yang sangat penting dalam memulihkan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19. Oleh karenanya, dia hendak meminta kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati untuk memberikan insentif pasar agar angka konsumsi kembali naik.
Advertisement
Masyarakat Lebih Pilih Menabung Dibanding Belanja
Mendag Lutfi mencermati, rendahnya angka konsumsi terlihat dari minusnya pertumbuhan kredit perbankan. Menurutnya, hal itu mengindikasikan banyak orang memilih untuk menaruh uang di bank ketimbang berbelanja, sehingga kegiatan ekonomi dan perdagangan jadi minim.
"Jadi sekarang bagaimana caranya? Kalau saya ingin bicara sama Ibu Sri Mulyani adalah untuk memberi insentif untuk memberikan kepercayaan kepada pasar agar orang mengkonsumsi dulu," kata Mendag Lutfi.
Jika konsumsi masyarakat kembali naik, maka pemasukan untuk sektor perdagangan akan kembali naik. Mendag Lutfi pun menjamin Kementerian Perdagangan akan mengelolanya secara baik.
"Nah begitu mengonsumsi, kredit jalan lagi, beli mobil, beli sepeda motor, dan saya menjamin inflow daripada barang-barang bahan baku dan bahan penolong ini akan baik tata laksananya, tata kelolanya di Kementerian Perdagangan," tuturnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com