Pasca Kerusuhan di AS, Indeks Dolar Menguat di Beberapa Negara

Kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat membuat indeks dolar terhadap mata uang negara lain tertekan. Khususnya pada perdagangan di pasar Asia Oceania yang sempat menguat di perdagangan pasar Asia.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Pasca Kerusuhan di AS, Indeks Dolar Menguat di Beberapa Negara
dolar AS. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat membuat indeks dolar terhadap mata uang negara lain tertekan. Khususnya pada perdagangan di pasar Asia Oceania yang sempat menguat di perdagangan pasar Asia.

"Penguatan indeks dolar juga terbatas. Tadi kita lihat di pasar Amerika, di pasar asia oceania ini sedikit menguat semua. Indeks dolar saat ini kembali menguat dalam perdagangan pasar di Asia," tutur analis Ibrahim Assuhaibi saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Kamis, (7/1).

Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka ini menyebut, kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat mirip dengan pesta demokrasi yang pernah dialami Indonesia beberapa waktu lalu. Ketidak "Kejadian di Amerika Serikat seperti kejadian Pilpres di Indonesia pada saat Jokowi dengan Prabowo," kata dia.

Hanya saja, Donald Trump yang kalah dari Joe Biden pada Pilpres 2020 lalu. Trump merasa dirinya menang dan dicurangi sehingga melakukan aksi demo. Namun, dampak tersebut hanya bersifat sementara. Sebab Pilpres Amerika Serikat telah memenangkan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris.

Meski begitu, penguatan dolar tersebut tidak hanya dipicu kerusuhan di Amerika Serikat. Kondisi ini juga dipicu perkembangan pandemi Covid-19 yang berkembang di beberapa negara.

Dalam waktu yang bersamaan, Jerman dan Jepang melakukan kebijakan penguncian wilayah. Selain itu, ditemukannya kembali kasus baru di China. Sementara di Korea Selatan terjadi kenaikan kasus baru dari penyebaran virus corona.

"Kerusuhan di Amerika ini bersamaan dengan Jerman yang melakuan lockdown, Jepang lockdown dan Korea Selatan mengalami kenaikan kasus dan Tiongkok ada perkembangan kasus Covid-19," tutur Ibrahim.

Akibatnya, kata Ibrahim wajar bila terjadi koreksi terhadap mata uang. Penguatan indeks dolar tersebut sebagai akibat dari demo yang berakhir rusuh dan beberapa faktor lain.

Rekomendasi