Nama Nick Molnar mungkin belum seterkenal Warren Buffett maupun Jeff Bezoz yang merupakan deretan orang terkaya dunia. Namun, Nick bisa dibilang seorang ikon di Australia. Dia mampu menjadi miliuner atau orang terkaya termuda di negeri Kanguru, Australia.
Pria berusia 30 tahun ini pun menuai pujian usai mampu mengubah pandangan generasi milenial tentang kebiasaan belanja. Jerih payahnya pun mengganjar dirinya masuk daftar orang terkaya termuda di negerinya.
Bahkan, meski krisis akibat pandemi Covid-19 menerjang bisnisnya, harga saham perusahaan justru melonjak membawa Molnar ke status miliuner, seperti melansir CNBC.
"Sangat sulit untuk mencerna apa yang sedang terjadi, karena begitu banyak hal yang terjadi begitu cepat," ujar Molnard.
Molnar merupakan co- founder sekaligus co- CEO dari Afterpay, sebuah platform pembayaran "beli sekarang, bayar nanti".
Afterpay sendiri memberikan kesempatan kepada pengguna untuk mengatur biaya pembelian hingga melebihi cicilan reguler dan tanpa bunga.
Untuk tahun ini sendiri, perusahaan teknologi berusia enam tahun itu menjadi salah satu saham terpanas di Australia. Harga sahamnya melonjak 1.300 persen, dan berhasil mendapatkan 11,2 juta pengguna, di mana pandemi memicu kebiasaan belanja baru dari banyak orang.
Molnar pun meluncurkan ide bisnis bersama tetangganya, Anthony Eisen, seorang petugas investasi yang 18 tahun lebih tua dari dirinya.
"Ada tren yang saya lihat tumbuh di periode krisis keuangan di tahun 2008," kata Molnar.
Advertisement
Molnar yang dulunya adalah seorang mahasiswa perdagangan di University of Sydney, menyadari ada perubahan pola belanja dari kaum-kaum muda.
Dia pun membuat teori, bahwa kaum muda semakin menunjukkan sikap skeptis terhadap produk keuangan tradisional, seperti kartu kredit, yang dapat berujung pada membekaknya utang.
"Bertumbuh menjadi seorang dewasa pada periode tersebut memang cukup sulit. Anda melihat orang tua teman atau orang tua anda sendiri kehilangan pekerjaan karena utang, dan para milenial pun pada dasarnya sepakat untuk lebih memilih membelanjakan kartu debit jika daripada kartu kredit," jelas Molnar.
Oleh karena itu Molnar dan Eisen pun memutuskan untuk membentuk cara pembayaran alternatif yang lebih ramah kepada cara pembayaran milenial.
Dengan model pembayaran "beli sekarang dan bayar nanti", pembeli dapat membagi biaya pembelian hingga 1.500 dolar Australia dalam empat cicilan serupa, sementara pengecer akan membayar komisi kecil sekitar 4 persen hingga 6 persen.
Namun demikian, pertumbuhan Afterpay yang begitu cepat pun, nampaknya menuai beberapa kritikan. Banyak kritikus berpendapat, bahwa perusahaan ini mendorong belanja konsumen yang berlebihan.
"Di satu sisi, kami dapat memposisikannya sebagai bagaimana platform 'beli sekarang, bayar nanti' memungkinkan konsumen untuk lebih sadar dan berhati-hati tentang pengeluaran merekam, tetapi di saat yang bersamaan, cara tersebut juga menempatkan kerentanan akan orang membelanjakan lebih dari apa yang mereka miliki," kata Hianyang Chan, konsultan senior di perusahaan riset pasar Euromonitor.
Reporter: Yoga Senjaya Putra
Sumber: Liputan6.com