Menkop Teten Saran Peternak Ayam Bentuk Koperasi agar Lebih Efisien

Teten menegaskan, memperkuat koperasi peternakan, termasuk perunggasan memang harus dilakukan agar usaha mereka dapat lebih berkembang.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Menkop Teten Saran Peternak Ayam Bentuk Koperasi agar Lebih Efisien
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di Rumah Produksi Ayam Kampung Olahan di Bogor. ©2020 Liputan6.com/Tira Santira

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menyarankan peternak unggas khususnya ayam yang sebagian besar adalah UMKM untuk berkoperasi. Langkah ini dinilai sangat penting agar peternak bisa mencapai skala bisnis, lebih efisien dalam proses produksinya.

"Peternak ayam yang umumnya UMKM merupakan salah satu motor penggerak ekonomi rakyat. Pemerintah berkomitmen melindungi dan membantu mereka untuk bisa tumbuh melalui koperasi, karena saat ini peternak perorangan atau skala kecil akan susah bersaing di pasar," kata Teten usai meresmikan UKM Rumah Produksi Ayam Kampung Olahan dengan merek NatChick di Bogor, Selasa (1/9).

Teten menegaskan, memperkuat koperasi peternakan, termasuk perunggasan memang harus dilakukan agar usaha mereka dapat lebih berkembang.

Teten juga mengapresiasi pada PT SUI sebagai industri peternakan ayam lokal atau ayam kampung, yang mau mengembangkan UKM rumah produksi ayam kampung olahan ini, dan merangkul UMKM lain dalam pemasarannya sebagai reseller. Apalagi dalam pemasarannya sudah menggunakan aplikasi.

"Hal ini memberikan peluang usaha pada rakyat untuk menjadi pelaku UMKM. Saya sudah mencicipi olahan ayam kampungnya, rasanya enak banget. Apalagi olahan ayamnya banyak aneka bumbu rempah rempah dan ini juga peluang baru bagi UMKM untuk bisa memasarkan hasil rempah-rempahnya," ujarnya.

Menurutnya, langkah yang dilakukan PT SUI menggandeng UMKM ini sudah benar, karena peternakan ayam dan makanan olahan ayam merupakan domainnya UMKM, terlebih yang dikembangkan adalah ayam kampung.

"Sejarah ayam itu kan awalnya dari tiga wilayah yaitu Indonesia Hindustan dan China. Namun industri ayam modern kini dikuasai oleh negara negara besar seperti di Eropa dan Amerika,” katanya.

Selain itu, Teten melihat potensi pasar bagi UMKM peternak ayam kampung masih sangat besar. Sebagai sumber protein hewani konsumsi perkapita ayam di Indonesia tercatat 12 -13 kilogram perkapita pertahun, yang masih lebih rendah dibanding Malaysia yang mencapai 38-40 kg/tahun.

Peningkatan konsumsi ayam ini dapat memacu penyerapan ayam peternak rakyat yang berlimpah. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir Indonesia mengalami kondisi kelebihan pasokan ayam akibat suplai day old chicken (DOC) impor yang berlebih, sehingga membuat harga ayam peternak anjlok.

Peternak Sulit Bersaing

Ketua Umum Koperasi Pinsar Indonesia, Singgih Januratmoko menambahkan, selama ini peternak unggas yang mandiri adalah 90 persen dari pelaku usaha perunggasan di tanah air. Mereka sulit menghadapi persaingan dengan konglomerasi peternakan.

"Maka membentuk koperasi mulai dari primer, sekunder dan induk saat ini sudah keharusan jika peternak mandiri maju menjalankan usahanya. Kami berharap koperasi ini bisa jadi alternatif bagi industri perunggasan di tanah air," ujar Singgih.

Lanjut Singgih, nantinya koperasi-koperasi tersebut akan memiliki usaha mulai dari pengadaan pengadaan bahan baku pakan, pabrik pakan, pembibitan serta pemasaran produk hilir. Untuk saat ini sudah ada sembilan koperasi perunggasan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Selain menambah jumlah koperasi primer, juga akan membangun koperasi sekunder serta induk koperasi,” tambahnya.

Dia juga berharap dukungan pemerintah terutama untuk menyempurnakan kelembagaan, pelatihan serta akses permodalan.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi