Fundamental Kokoh, BRI Perkuat Penyaluran Kredit dan Kontribusi bagi Ekonomi Nasional

Pada Triwulan II tahun 2026, likuiditas dan permodalan BRI tetap solid, memberikan dukungan bagi intermediasi dan pertumbuhan ekonomi di tanah air.

Wuri Anggarini
Oleh Wuri Anggarini - Reporter
Fundamental Kokoh, BRI Perkuat Penyaluran Kredit dan Kontribusi bagi Ekonomi Nasional
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi. Foto: BRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang lebih dikenal sebagai BRI, berhasil mencatatkan kinerja yang positif hingga Triwulan II tahun 2026. Pencapaian ini didukung oleh likuiditas yang cukup, kualitas struktur pendanaan yang semakin meningkat, dan tingkat permodalan yang kuat.

Fundamental yang solid ini menjadi landasan bagi BRI untuk terus mengembangkan bisnisnya secara sehat. Dalam waktu yang bersamaan, perusahaan juga dapat menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional.

Dalam sebuah konferensi pers mengenai kinerja keuangan BRI untuk Triwulan II 2026 yang berlangsung di Kantor Pusat BRI di Jakarta, Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menegaskan bahwa kondisi likuiditas BRI tetap terjaga dalam batas yang memadai. Hal ini menunjukkan komitmen BRI untuk mempertahankan stabilitas keuangannya.

Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi BRI tercatat di angka 90,8 persen. Rasio ini menunjukkan bahwa BRI berada dalam posisi ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.

Dari perspektif permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI pada Triwulan II 2026 mencapai 21,5 persen. Posisi ini memberikan dasar yang kuat bagi perusahaan untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan bisnis di masa mendatang.

Achmad Royadi menyampaikan, "Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas."

Peningkatan Dana Murah Membuat Struktur Pendanaan BRI Lebih Berkualitas

Likuiditas dan Modal Tetap Kuat, BRI Siap Lanjutkan Pertumbuhan Bisnis secara Sehat
Gambar Gedung BRI. Sumber: BRI

Kondisi likuiditas BRI semakin baik berkat peningkatan kualitas struktur pendanaan. Pada akhir Triwulan II 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tercatat mencapai Rp1.581 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 6,7% secara year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini juga didukung oleh peningkatan proporsi dana murah, yang terlihat dari kenaikan rasio CASA dari 65,5% menjadi 67,6%. Dengan likuiditas yang terjaga dan struktur pendanaan yang berkualitas, BRI memiliki kesempatan untuk melaksanakan fungsi intermediasi secara efektif. Selain itu, permodalan yang kuat memberikan kemampuan bagi perusahaan untuk mendukung ekspansi bisnis sambil tetap menjaga ketahanan terhadap risiko.

Di tengah pertumbuhan yang positif ini, BRI tetap memprioritaskan kualitas dalam penyaluran kredit serta disiplin dalam pengelolaan risiko. Hal ini dapat dilihat dari perbaikan kualitas aset yang ditunjukkan oleh penurunan rasio Non-Performing Loan (NPL) dari 3,07% pada 2025 menjadi 2,9% pada Triwulan II 2026. Tren perbaikan ini sejalan dengan strategi pengelolaan risiko BRI, yang meliputi penerapan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery. Kinerja positif juga tercermin dari indikator risiko kredit yang menunjukkan perbaikan, di mana rasio Loan at Risk (LaR) menurun dari 9,6% pada akhir 2025 menjadi 9,1% pada akhir Triwulan II 2026.

Penurunan rasio tersebut mencerminkan peningkatan kualitas dalam booking kredit baru. Sejalan dengan perbaikan ini, Cost of Credit (CoC) juga mengalami penurunan, dari 3,4% pada akhir 2025 menjadi 3,1% pada akhir Triwulan II 2026. Dengan demikian, BRI menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga kesehatan finansial dan kualitas kreditnya di tengah pertumbuhan yang berlangsung. Hal ini menjadi indikasi bahwa BRI tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada pengelolaan risiko yang prudent dan berkelanjutan.

Penguatan Kinerja Didukung Fundamental Solid

Fundamental yang terjaga tersebut turut menopang penguatan kinerja BRI sepanjang Triwulan II 2026. Total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% secara year-on-year (yoy), terutama ditopang oleh akselerasi kredit yang tumbuh 16,2% menjadi Rp1.646 triliun. Kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental tersebut turut mendorong laba bersih BRI mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% yoy.

Kekuatan fundamental tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi, terutama pada segmen UMKM yang menjadi core business Perseroan. Fokus pada UMKM tidak hanya menjadi bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga berjalan beriringan dengan dukungan BRI terhadap berbagai agenda prioritas pemerintah.

Rekomendasi