Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini menyetop sementara perdagangan saham. Sebab, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5,01 persen ke level 4.650,58.
Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, mengatakan ini adalah saat yang tepat untuk belanja. "This is the right time untuk mulai belanja," ujar Djajadi saat temu media di ruang Investology BEI, Jakarta, , Jumat (13/2).
Djajadi mengungkapkan, pekan depan ada lembaga dana pensiun yang sudah berkomitmen untuk membeli saham. Namun, dia masih enggan membeberkan lebih detail terkait komitmen tersebut.
"Saya belum bisa sebutkan, institusi cukup besar dari insurance dan pension fund akan beli," kata dia.
Kendati demikian, dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi menyatakan momentum ini tidak serta merta mengacu pada keputusan pembelanjaan.
"Posisi bursa tadi sebetulnya menjaga mekanisme pasar tetap wajar. Nah, time to buy atau time to sell itu kita serahkan kepada market."
Hasan menambahkan, 30 menit slowing atau cooling down di IHSG dimaksudkan untuk mengkaji pengambilan keputusan. "Nah itulah kenapa trade halt dulu deh 30 menit. 30 menit itu kita pandang waktu yang memadai untuk mereka mencari informasi sebanyak-banyaknya," jelasnya.
Advertisement
OJK Nilai Stimulus Fiskal Virus Corona Berdampak Positif ke IHSG
Pemerintah akan mengeluarkan Stimulus Fiskal dan Non-Fiskal Jilid II untuk memberi kemudahan bagi perekonomian yang kini turut terkena dampak penyebaran wabah virus corona. Stimulus kedua tersebut secara tak langsung juga akan memberikan pengaruh positif bagi kegiatan perdagangan di Pasar Modal Indonesia.
"Jadi stimulus pajak yang dikeluarkan ini (dampaknya) tidak langsung kepada pasar modal. Tapi diharapkan bisa memberikan kontribusi pada pengusaha, terutama yang terkena, termasuk investor di pasar modal," ujar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3).
Wimboh melanjutkan, pemerintah akan merilis Stimulus Jilid II untuk memberikan sentimen positif ke berbagai sektor termasuk pasar saham. Namun begitu, dia menyatakan bahwa pemerintah dan pelaku usaha tak bisa sama sekali mengelak dari efek virus corona.
"Kita hanya bisa beri ruang dan nafas yang panjang bagi pengusaha sambil menunggu virus corona ini cepat selesai. Bukan hanya Indonesia, seluruh dunia harus memulai. Karena seluruh bisnis sekarang saling berkaitan," sambungnya.
Reporter: Pipit Ika Ramadhani
Sumber: Liputan6