Laporan Bank Dunia: Kerugian Akibat Kemacetan di Indonesia Tembus Rp56 Triliun

Dalam laporannya, Bank Dunia menjelaskan kemacetan timbul akibat laju urbanisasi yang belum merata. Warga lebih menggemari untuk tinggal di kota besar sehingga terjadi penumpukan populasi dan beban perekonomian di sana.

Yayu Agustini Rahayu
Oleh Yayu Agustini Rahayu - Reporter
Laporan Bank Dunia: Kerugian Akibat Kemacetan di Indonesia Tembus Rp56 Triliun
Kemacetan. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Kemacetan parah yang melanda beberapa kota besar di Indonesia tidak hanya merugikan masyarakat dari segi waktu saja, melainkan juga dari segi materi. Bank Dunia memperkirakan, kerugian akibat kemacetan di Indonesia mencapai Rp56 triliun dalam satu tahun.

Dalam laporannya, Bank Dunia menjelaskan kemacetan timbul akibat laju urbanisasi yang belum merata. Warga lebih menggemari untuk tinggal di kota besar sehingga terjadi penumpukan populasi dan beban perekonomian di sana.

Global Director for Urban and Territorial Development, Disaster Risk Management and Resilience Bank Dunia, Sameh Wahba dalam laporan Bank Dunia berjudul 'Mewujudkan Potensi Perkotaan Indonesia' menyebutkan bahwa total biaya yang hilang akibat kemacetan lalu lintas untuk 28 wilayah metro di Indonesia sebesar USD 4 miliar per tahun atau sekitar Rp56,7 triliun (kurs Rp14.188 per USD). Angka ini setara dengan 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

"Jadi urbanisasi yang tidak dikelola dengan baik memberikan tekanan pada kemacetan, polusi, daerah kumuh, serta pemukiman dan infrastruktur," kata dia di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (3/10).

Bank Dunia mengungkapkan, untuk DKI Jakarta saja, total kerugian yang hilang akibat kemacetan lalu-lintas mencapai USD 2,6 miliar atau sekitar Rp36,8 triliun. Jakarta juga masuk dalam daftar sepuluh kota dengan kemacetan lalu-lintas tertinggi di dunia. Bahkan berdasarkan Indeks Kemacetan Lalu-lintas TomTom, Jakarta adalah kota dengan kemacetan tertinggi di antara 18 kota besar di seluruh dunia.

"Dengan estimasi tambahan waktu sebesar 58 persen yang diperlukan untuk setiap perjalanan, ke manapun dan kapanpun di Jakarta," ujarnya.

Kota-kota kecil lain di Indonesia, seperti Padang dan Yogyakarta, juga bahkan mengalami kemacetan. Seperempat waktu perjalanan hilang akibat kemacetan lalu-lintas.

Rekomendasi