Dorong BBM Euro 4, Pertamina sebut demi kualitas udara Indonesia lebih baik

Adiatma mengatakan, untuk memperbaiki kondisi udara tersebut penyediaan BBM Euro 4 terus didorong oleh Pertamina melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Dia menambahkan, Pertamina ke depan juga akan membuat program untuk menyediakan BBM sampai Euro 5 dan Euro 6.

Dwi Aditya Putra
Oleh Dwi Aditya Putra - Reporter
Dorong BBM Euro 4, Pertamina sebut demi kualitas udara Indonesia lebih baik
Antrean kendaraan di SPBU Abdul Muis. ©2018 Liputan6.com/JohanTallo

Pemerintah Indonesia terus mendorong perubahan standard emisi dari Euro 2 menjadi Euro 4. Pertamina menilai penerapan Bahan Bakar Minyak (BBM) Euro 4 menjadi penting untuk kondisi udara Tanah Air.

Vice President Communication PT Pertamina Adiatma Sardjito mengungkapkan, berdasarkan pemantauan, kualitas udara di kota Jakarta sangat buruk. "Kualitas udara di Jakarta masih jauh dibanding Singapura. Kita tidak jelek tapi menuju yang terbaik lah. Pertamina konsen dengan udara bersih agar menang lagi," ujarnya dalam diskusi Media Forum Merdeka Barat, BBM Euro 4 Ramah Lingkungan, di Ruang Serba Guna Kementerian Kominfo, Jakarta, Kamis (9/8).

Adiatma mengatakan, untuk memperbaiki kondisi udara tersebut penyediaan BBM Euro 4 terus didorong oleh Pertamina melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). "BBM Euro 4 yang akan kami pasarkan segera akan membuat kualitas udara kita jadi lebih baik," imbuhnya.

Dia menambahkan, Pertamina ke depan juga akan membuat program untuk menyediakan BBM sampai Euro 5 dan Euro 6. "Untuk itu, kita sudah mulai bangun kilang di Tuban dan di Bontang-Kaltim, semuanya disiapkan untuk Euro 5 dan Euro 6," tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Karliansyah mengatakan, melalui aturan tersebut maka seluruh kendaraan bahan bakar Euro 2 harus segera beralih menggunakan Euro 4. Ini juga akan mendorong agar kondisi udara di Tanah Air lebih bersih.

"Dalam kajian bersama yang dilakukan pada 2011 hingga 2012 lalu, diketahui bahwa sebesar Rp 38,5 triliun per tahunnya uang masyarakat habis untuk pengobatan penyakit-penyakit yang terkait dengan dampak pencemaran udara," ujarnya.

Rekomendasi