Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengkritik Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla (JK) yang dinilai tidak kompak sehingga nilai tukar Rupiah saat ini terombang-ambing. Ekonom Senior INDEF Didik J Rachbini mengatakan, pemerintah era Presiden Soeharto lebih memiliki sensitivitas dalam menjaga nilai tukar Rupiah dan inflasi sejak periode 1970-an.
"Mengapa? Karena pada 1965 kita dihantam oleh krisis inflasi yang maha dahsyat. Oleh karena itu, pemerintah orde baru sangat sensitif terhadap inflasi. Akan jadi isu besar kalau harga telur naik pada saat itu," paparnya dalam acara Kajian Tengah Tahun 2018 yang diselenggarakan INDEF di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (31/7).
"Waktu itu, bahkan pengontrolan inflasi ada di samping kanan Presiden Soeharto. Sekarang siapa yang menjaga inflasi? Tidak ada. Masing-masing bicara sendiri. Hanya BI (Bank Indonesia) yang kerja," tambahnya.
Didik pun menyebutkan, pemerintah saat ini tidak sensitif terhadap nilai tukar Rupiah. Menurutnya, tim ekonomi negara gagal mengelola berbagai faktor nilai tukar tersebut. "Tim ekonomi kita itu tidak solid. Antara satu menteri dan menteri lainnya berkelahi. Ada masalah leadership kepemimpinan ekonomi yang berat pada saat ini," keluhnya.
Dia kembali membandingkan kondisi perekonomian negara kini dengan zamannya Soeharto. Dia menyatakan, Indonesia di bawah kepemimpinan Soeharto hanya memegang cadangan devisa sebesar USD 30-35 miliar, tapi bisa mengendalikannya sebelum dilanda krisis moneter 1998.
"Ada devaluasi yang tertib dari 600 ke 700, 1.100 ke 1.400 dan seterusnya," jelas dia.
Pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), tambahnya, nilai tukar semakin berat sebab pengaruh sektor luar negeri tidak selalu dijaga. Menurutnya, pemerintah tak mampu mengontrol banyak faktor yang menyebabkan nilai Rupiah anjlok. "Nilai tukar ini yang sebenarnya jadi permasalahan. Kalau nilai tukar Rp 14.500, maka otomatis kita sulit mengimpor," ungkap dia.
"Sehingga dengan demikian, nilai Rupiah kita tidak terjaga dengan sebaiknya. Dibiarkan saja, tidak terkontrol, dan faktor-faktornya tidak dikembangkan dengan baik," dia menyimpulkan.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com