Meski ada Lebaran, inflasi Juni 2018 diprediksi tetap rendah di 0,3 persen

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, memprediksi inflasi Juni ada di kisaran 0,3 persen. Namun, dia menilai inflasi rendah selama periode Lebaran bukan karena upaya pemerintah dalam mengendalikan pasokan pangan, tapi lebih disebabkan pelemahan permintaan.

Yayu Agustini Rahayu
Oleh Yayu Agustini Rahayu - Reporter
Meski ada Lebaran, inflasi Juni 2018 diprediksi tetap rendah di 0,3 persen
Pasar tradisional jelang Lebaran. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, memprediksi inflasi Juni ada di kisaran 0,3 persen. Namun, dia menilai bahwa inflasi rendah selama periode Lebaran bukan karena upaya pemerintah dalam mengendalikan pasokan pangan, tapi lebih disebabkan pelemahan permintaan.

"Analisisnya masih sama 20 persen pengeluaran atas yang kuasai 46 persen total konsumsi, kencederungannya masih saving belum mau belanja," kata Bhima saat dihubungi Merdeka.com, Minggu (24/6).

Selain itu, Bhima menjelaskan, Tunjangan Hari Raya yang diperoleh oleh masyarakat juga lebih cenderung disimpan daripada dihabiskan. Sebab, dalam waktu dekat akan memasuki tahun ajaran baru bagi anak sekolah.

"Ada THR memang yang dorong konsumsi, tapi sebagian PNS yang mendapat THR juga cenderung menyimpan uang untuk kebutuhan paska lebaran khususnya tahun ajaran baru sekolah."

Bhima menyatakan bahwa prediksi inflasi Juni di 0,3 persen memang cenderung lebih rendah dari Juni tahun lalu. Beberapa harga pangan meskipun ada pelemahan kurs masih cukup terkendali. Namun ada beberapa harga yang harus diwaspadai yaitu diantaranya pakan ternak ayam yang berimbas pada tingginya harga daging dan telur ayam.

"Karena (pakan ternak) impor jadi lebih mahal, transmisinya ke harga daging ayam ras sama telur naik," ujarnya.

Rekomendasi