Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyatakan penambahan cuti bersama Lebaran yang ditetapkan pemerintah memiliki sisi positif dan negatif bagi dunia usaha. Pemerintah, tegasnya, telah mengantisipasi sisi negatif dari cuti bersama ini.
Hal tersebut akan diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani. "Tapi nanti sudah ada solusinya, yang mengumumkan yang berwenang. Itu di Menko PMK," ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (4/5).
Menteri Enggar menegaskan penambahan cuti bersama akan berdampak positif terhadap industri ritel dan perhotelan. Sebab, dengan adanya libur tambahan saat Lebaran akan membuat masyarakat memiliki lebih banyak waktu untuk berbelanja dan berwisata ke berbagai wilayah di Indonesia.
"Ya ada plus minus. Plusnya ritel bagus, hotel bagus. Tingkat produktivitas, tapi di sisi ritel positif dan tingkat untuk konsumsi meningkat. Plusnya ritel di daerah, pariwisata juga pasti akan jalan dan ekonomi daerah tumbuh berkembang," tuturnya.
Namun sisi negatifnya, adanya cuti bersama ini akan berdampak pada produktivitas sektor industri. Selain itu, beban biaya yang harus ditanggung oleh industri juga lebih besar, karena harus membayar uang lembur bagi pegawainya agar tetap bekerja saat masa cuti bersama berlangsung.
"(Sisi negatifnya?) Produktivitas dari industri. (Industrinya?) Setiap pabrik pasti ada. Karena mereka harus bayar gaji karyawan. Ya kan harus bayar lembur, cost-nya mahal. Kalau mereka pendekatannya pada produk dan dikejar di depan, kan mereka harus bayar lembur. Ini juga harus bayar," kata dia.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com