Penutupan sementara (shutdown) layanan pemerintahan Amerika Serikat telah berakhir. Berakhirnya shutdown tersebut, setelah Partai Republik dan Demokrat berhasil menyetujui undang-undang anggaran belanja sementara.
Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, mengatakan shutdown pemerintahan AS dalam beberapa hari lalu hanya berdampak kecil bagi ekonomi Indonesia.
"Kami melihat dampaknya temporer dan dampaknya kepada Indonesia ini minim sekali. Karena kalau shutdown bukan berarti seluruh institusinya berhenti, tapi hanya sebagian dan itu ditingkat federal," ujarnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (23/1).
Agus mengatakan, dampak shutdown pemerintahan AS membawa dampak positif bagi Indonesia. "Dampaknya kepada Indonesia kalaupun ada itupun positif. Saya meyakini bahwa di Amerika pun para pemangku kepentingan atau stakeholder tahu bahwa ini bukan sesuatu yang baik untuk ada government shutdown," tandasnya.
Sebelumnya, penutupan pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali terjadi usai senat tidak menyepakati anggaran belanja negara. Adapun departemen yang akan terkena efek penutupan sementara yaitu Departemen Perdagangan, NASA, Departemen Ketenagakerjaan, Departemen Perumahan dan Departemen Energi.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, bagi Indonesia dampak terjadinya shutdown secara temporer sangat minim ke nilai tukar rupiah. Proyeksi rupiah masih berada dalam rentang terkendali di kisaran Rp 13.350 sampai Rp 13.400 per USD.
"Hal ini disebabkan pada masa shutdown, USD cenderung melemah terhadap mata uang negara lainnya. Terjadinya shutdown menyebabkan prospek pemulihan ekonomi AS bisa terganggu. Dalam posisi ini justru Rupiah akan diuntungkan," ujar Bhima.
"IHSG pun masih tetap positif di angka 6.490 sampai 6.500, didorong oleh sentimen investor dalam negeri terhadap prospek pemulihan ekonomi Indonesia," tambahnya.
Lebih lanjut Bhima menjelaskan, peristiwa shutdown pernah terjadi tahun 1995 sampai 1996 dan tahun 2013. Saat itu kurs rupiah hampir tidak terpengaruh oleh shutdown di AS. Karena sifatnya lebih temporer atau jangka pendek, yang berlangsung dalam waktu 2 minggu.
Dalam konteks persiapan menghadapi rencana shutdown saat ini, cadangan devisa Indonesia masih cukup untuk stabilisasi kurs. Angka terakhir bulan desember 2017 cadangan devisa berada di posisi USD 130 miliar.
Sebagai safety net atau jaring pengaman terhadap gejolak eksternal, cadangan devisa harus terus ditingkatkan nilai maupun kualitasnya dengan mendorong devisa ekspor non-migas serta devisa pariwisata. Bank Indonesia juga perlu terus memantau resiliensi atau ketahanan fundamental ekonomi terhadap tekanan global.