Hari Selasa, (3/10), perjalanan kereta Jabodetabek mengalami gangguan. Penyebab, kereta anjlok di wilayah Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Atas kejadian ini, kereta tujuan Bogor-Jakarta Kota hanya berhenti di Stasiun Manggarai.Anjloknya kereta ini dinilai bisa membuat Jabodetabek sedikit lumpuh. Kereta memang menjadi transportasi andalan masyarakat Jabodetabek.Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui kereta api jadi primadona transportasi massal saat ini. Menurutnya, persediaan kereta yang ada saat ini tidak bisa menutupi jumlah penumpang setiap harinya.Menhub Budi menegaskan lebih dari 1 juta penumpang kereta api setiap hari. Untuk menutupi kebutuhan ini, pemerintah akan melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi dalam proyek perkeretaapian.Dia mengungkapkan dalam satu tahun, 35 persen anggaran Kementerian Perhubungan digunakan untuk proyek kereta api. Salah satu proyek yang digenjot adalah kereta api bandara.
"Jadi memang kita ingin kereta api jadi angkutan andalan," kata Menhub Budi kepada merdeka.com.Selain itu, pemerintah juga berniat membangun proyek transportasi massal sebagai alternatif pengganti kereta api jika terjadi gangguan. "Jadi, kita bisa mengatakan bahwa kita akan berkonsentrasi pada angkutan massal," katanya.Adapun, transportasi alternatif pengganti kereta api telah disiapkan pemerintah. Proyeknya yaitu Mass Rapid Transit (MRT) yang menghabiskan dana Rp 27 triliun, Light Rail Transit Rp 27 triliun, jalur kereta ganda Rp 5 triliun."Dari situ saja yang Jabodetabek hampir Rp 50 triliun. Memang komplikasi trafik di Jakarta dan kota-kota besar itu memang begitu banyak dan dahsyat," jelas Budi.Mantan Dirut Angkasa Pura II ini menambahkan pemerintah pun terlambat mengantisipasi adanya angkutan massal di kota-kota besar. Dia pun berharap jika proyek transportasi massal selesai, macet di Jabodetabek akan berkurang."Pada saat MRT dan LRT itu relatif berjalan baik di 2019 atau 2020, maka mudah-mudahan macet ini akan berkurang," tegasnya.