Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meminta publik tidak mempersepsikan meningkatnya aktivitas Gunung Agung sebagai sesuatu yang dahsyat dan mematikan.
Sebab, persepsi tersebut dapat mengganggu jalannya kehidupan masyarakat Bali serta memberikan dampak negatif bagi pariwisata daerah.
Berdasarkan letak geografisnya, Gunung Agung berada cukup jauh dari kepadatan populasi penduduk Bali. Dari 78 desa yang berada di Kabupaten Karangasem, hanya 14 desa yang terdampak langsung sejauh ini.
"Artinya, masih ada 64 desa yang dinyatakan sebagai zona aman untuk penduduk dan wisatawan," katanya seperti dikutip laman Kementerian Luar Negeri, Jumat (6/10).
Dia menambahkan, jika Gunung Agung meletus, dampaknya diperkirakan hanya sejauh 12 km dari gunung. Hanya dampak dari debu vulkanik yang kemungkinan lebih dari 12 km.
Menurutnya, kondisi Gunung Agung saat ini tidak dapat dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1963. Saat ini, Pusat Vulkanologi memiliki peralatan memadai untuk memantau kondisi Gunung Agung, dan telah ada badan khusus yang menangani masalah kebencanaan.
Sebelumnya, banyaknya informasi di media sosial yang menunjukkan kengerian erupsi Gunung Agung tanpa berdasarkan data resmi dari pemerintah, membuat sejumlah wisatawan membatalkan kunjungannya ke Bali.
Bahkan Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan jumlahnya sudah mencapai sekitar 100 ribu wisatawan yang membatalkan kunjungan ke Pulau Dewata.
Dikabarkan sebelumnya Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia Bali telah menyatakan ada 70 ribu wisatawan yang batal ke Bali akibat status Gunung Agung yang sedang awas.
"Ya saat ini sudah ada sekitar 100 ribu wisatawan yang batal datang ke Bali," kata Arief saat meninjau Pos Komando Tanah Ampo di Karangasem, Kamis (5/10) sore.