Ekonomi Jepang terancam hancur karena warganya tak suka seks

Seorang pejabat di Jepang memprediksi tingkat kelahiran selama satu tahun hanya 981.000 bayi. Angka ini menurun 25.000 dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan angka kematian per tahun mencapai sekitar 1,3 juta orang.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Ekonomi Jepang terancam hancur karena warganya tak suka seks
Ilustrasi bintang porno. ©2013 Merdeka.com/rocketnews24.com

Bom waktu ekonomi melanda Jepang karena rendahnya angka kelahiran. Generasi muda semakin sedikit, sementara generasi tua terus meninggal. Krisis kesuburan melanda Negara Sakura.

Menjelang akhir tahun ini, seorang pejabat di Jepang memprediksi tingkat kelahiran selama satu tahun hanya 981.000 bayi. Angka ini menurun 25.000 dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan angka kematian per tahun mencapai sekitar 1,3 juta orang.

Tanpa intervensi, ekonomi Jepang akan terus menyusut. "Kami akan terus berupaya dan mendorong agar masyarakat membesarkan anak," ucap Menteri Kesejahteraan Jepang, Yasuha Shiozaki seperti ditulis Japan Times dan dikutip dari Business Insider.

Menurut lembaga populasi Jepang, jumlah penduduk negara ini hanya 107 juta orang pada 2040 atau turun 20 juta dibanding hari ini.

Pada waktu bersamaan, populasi Jepang terus menyusut dan menua. Hal ini menjadi bom waktu demografi yang bisa membuat kemerosotan ekonomi Jepang seperti yang terjadi di Yunani saat ini. Di Yunani sendiri banyak lansia dan pensiunan, sehingga anggaran negara habis hanya untuk dana pensiun. Hal ini juga yang memicu bangkrutnya Yunani saat ini.

Tingkat kesuburan di Jepang merupakan salah satu terendah di dunia yaitu hanya 1,4 kelahiran per perempuan. Sosiolog mengatakan, populasi akan tetap stabil ketika suatu negara memiliki setidaknya 2,1 kelahiran per perempuan.

Tak hanya Jepang, negara lain juga menghadapi masalah serupa, termasuk Amerika Serikat dengan tingkat kesuburan 1,87, Denmark dengan 1,73, China dengan tingkat kesuburan 1,6 dan Singapura 0,81. Namun, kasus Jepang disebut paling parah.

Sebuah study 2016 yang dilakukan oleh perusahaan riset Jepang menemukan bahwa, hampir 70 persen laki-laki Jepang belum menikah dan 60 persen wanita Jepang belum menikah dan tidak dalam hubungan. Fakta ini mengagetkan walaupun sebagian mereka mengatakan akan menikah pada akhirnya.

Pemerintah Jepang telah bekerja keras meningkatkan kesuburan dengan target 1,8 kelahiran per perempuan pada 2025 mendatang. Salah satu caranya adalah dengan menyelenggarakan acara kencan kilat untuk membantu orang bertemu.

Masyarakat Jepang tidak suka melakukan hubungan sex. Silakan klik selanjutnya.

Asosiasi Perencanaan Keluarga Jepang dalam surveinya melaporkan bahwa 49,3 persen masyarakat Jepang berusia 16 - 49 tahun tidak melakukan hubungan seks dalam satu bulan terakhir. Jumlah responden dalam survei ini mencapai 1.134 orang.

Berdasarkan jenis kelamin, 48,3 persen pria dilaporkan tidak berhubungan seks dan 50,1 persen wanita juga tidak berhubungan seks. Menurut Japan Times, angka ini mengalami peningkatan 5 persen sejak dua tahun lalu.

Responden memberikan alasan kenapa tidak melakukan hubungan seks, jawaban dari 21,3 persen pria menikah dan 17,8 persen wanita menikah mengaku kelelahan saat bekerja sehingga tidak berminat berhubungan seks. Sedangkan 23 persen persen wanita menikah mengatakan seks itu menyakitkan, dan 17,9 persen responden pria mengatakan mereka tidak berminat melakukan seks.

Laporan pusat populasi Jepang pada 2011 yang dikutip Max fisher dari Washington Post menyebut 27 persen pria dan 23 persen wanita tidak tertarik untuk berpacaran atau hubungan romantis. Dari usia 18 - 34 tahun, 61 persen pria dan 49 persen wanita Jepang tidak punya pacar. Tidak hanya itu, usia 18 - 34 tahun, 36 persen pria dan 39 persen wanita Jepang belum pernah melakukan hubungan seks.

Para ahli mengatakan, tidak tertariknya masyarakat Jepang pada hubungan seks sebagai dampak majunya ekonomi negara tersebut. Selain itu, hal ini juga terjadi karena tingginya ketidaksetaraan gender di Jepang. Menurut data World Economic Forum (WEF), Jepang menduduki peringkat 104 dari 140 negara dalam hal kesetaraan gender.

"Wanita profesional terjebak dalam kondisi ini, karena wanita hamil atau sudah menikah diharapkan berhenti bekerja. Kalau masih bekerja mereka akan mengalami tekanan sosial yang besar. Wanita yang sudah menikah tapi masih bekerja di Jepang disebut Oniyome atau istri setan. Karena itu banyak wanita berpikir tidak mungkin mengejar kemajuan karir jika menikah," ucap Fisher.

Rekomendasi