PT Freeport Indonesia (PTFI) mengakui realisasi pembangunan pabrik pemurnian mineral atau smelter masih jalan di tempat. Meski demikian, perusahaan tambang asal Amerika Serikat ini menyebut sudah mengeluarkan banyak dana untuk investasi smelter.
Direktur dan Executive Vice President Freeport Indonesia, Clementino Lamury mengatakan, dari total komitmen investasi pembangunan smelter sebesar USD 2,2 miliar, Freeport klaim telah mengeluarkan dana sebesar USD 212,9 juta. Anggaran itu nantinya akan diproyeksikan untuk pengurusan lahan.
"Memang dari total komitmen USD 2,2 miliar capital expenditure atau belanja modal untuk smelter, yang direalisasikan per November itu sekitar USD 212 juta," ujarnya dalam rapat dengan Komisi VII di DPR, Jakarta, Rabu (7/12).
Clement menjelaskan, anggaran tersebut di antaranya dialokasikan untuk jaminan kesungguhan pembangunan smelter sebesar USD 115 juta, menyelesaikan perizinan AMDAL konstruksi smelter sebesar USD 50 juta, menyerahkan deposito jaminan sebesar USD 20 juta, dan merealisasikan pembayaran perjanjian sewa lahan USD 1,5 juta dari total sewa lahan sebesar USD 150 juta.
"Jadi uang kami keluar di luar dari deposito, itu lebih ke persiapan lahan. Kami mengharapkan adanya perpanjangan operasi, maka realisasi akan lebih cepat," tuturnya.
Lanjut dia, saat ini ada dua lahan yang tengah dipersiapkan Freeport. Sayangnya, pihaknya masih belum memutuskan lahan mana yang akan digunakan untuk membangun smelter. Alasan lain, banyak tanah yang belum siap dalam beberapa hal.
"Jadi perlu ada persiapan lahan, perlu direklamasi dan tanahnya walaupun direklamasi perlu ada soil improvement atau perbaikan penguatan lahan," tandas dia.