Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara, menyatakan saat ini pajak menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Sebab, roda penggerak pertumbuhan ekonomi lain seperti harga komoditas tengah turun dan tidak dapat andalkan."Rendahnya harga komoditas dan Indonesia sebagai negara komoditas terkena imbasnya. Masih bisa ekspor tapi nilainya kecil," katanya dalam acara Indonesia Business & Development Expo 2016, di JCC, Jakarta, Jumat (9/9).Namun, harapan Indonesia dari pajak juga tidak sesuai yang diharapkan karena hasilnya belumlah maksimal. Suahasil mengungkapkan, dari 250 juta penduduk Indonesia, hanya 28 juta memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP). "Dari 28 juta itu hanya 10 juta yang mengembalikan SPT. Dari 10 juta itu, tidak sampai 1 juta yang tidak mengembalikan pajak, pasti ada yang tidak bener," jelasnya.Fenomena ini yang mendasari pemerintah untuk memberlakukan program Tax Amnesty atau pengampunan pajak. Harapannya, para konglomerat pemilik dana di luar negeri, mau mengembalikan dananya ke Indonesia."Apa yang dilakukan ini, kita berharap nantinya dapat tax base yang benar," katanya.Dana Tax Amnesty diharapkan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk pembangunan negara dan menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Tahun depan kita bisa tumbuh di 5,1 persen, kalau bisa lebih baik tentu lebih baik," tutupnya.
Jadi harapan penopang perekonomian, pajak belum bisa diandalkan
Pajak menjadi harapan penggerak ekonomi usai turunnya harga komoditas dunia.
Advertisement
Rekomendasi