Maju pesatnya teknologi saat ini membuka banyak peluang bisnis. Dengan internet, seseorang bisa menjual produknya hingga ke luar negeri. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin menjual produk secara online.
Salah satu pendiri situs jual beli online Bukalapak.com, Fajrin Rasyid mengatakan, ada beberapa cara yang bisa ditempuh pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk berbisnis secara online. Salah satunya adalah media sosial.
"Banyak pilihan, bisa melakukan pemasaran lewat Facebook atau Instagram, silakan menentukan pilihan semua ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti Instagram jual lebih simple, tapi kekurangan harus bayar cash dulu. Hanya saja buat yang engga kenal jadi enggak percaya kita," ujar Fajrin di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Selasa (9/2).
Selain melalui media sosial, pelaku usaha bisa mengelola website sendiri atau dikenal personal website. Hanya saja, kata Fajrin, untuk mengelola website ini dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit.
"Positifnya, branding sangat positif karena bisa mendongkrak gengsi pemilik website. Kelemahannya, kita harus punya orang yang bisa meluangkan waktu untuk memaintenance website kita. Usahanya sangat besar, susah kalau punya website tapi enggak ada yang maintenance dan enggak interaktif dengan konsumen," jelas dia.
Lebih lanjut, selain dua model platform tersebut, para pelaku usaha masih memiliki pilihan di online shop (iklan baris dan market place).
"Jenis ini sama seperti berdagang lewat media sosial, pedagang dan pembelinya bertemu langsung atau COD (Cash On Delivery). Pembeli tinggal memilih dari barisan iklan yang terkait dengan barang yang dicari," paparnya.
"Sedangkan marketplace, sistem pembayarannya terjamin keamanannya, baik untuk penjual maupun pembeli. Jadi pelaku usaha tidak perlu pusing mikirin transaksi. Karena semua terekam, enggak akan terlewat," tuturnya.
Kendati demikian, platform jenis ini beberapa mengenakan tarif untuk setiap transaksinya yang tercapai.
"Beberapa ada yang menerapkan tarif seperti Qoo10 dikenakan tarif 5 persen tapi hanya untuk yang terjual saja. Jadi semua pilihan dan pertimbangan masing-masing UKM di mana mereka mau mendistribusikannya, tutupnya.