Sejak didaulat menjadi Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli terus mendapat sorotan lantaran pernyataannya yang ceplas ceplos.
Sebut saja saat dia mengusulkan menghentikan pembelian pesawat Garuda Indonesia, revisi proyek pembangkit listrik 35.000 MW, hingga soal pulsa listrik yang disebutnya ada peran mafia sampai rencana pembangunan infrastruktur penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina (Persero). Ujungnya, dia dicap tukang bikin gaduh dalam kabinet. Kecaman ke Rizal Ramli datang silih berganti.
Kegaduhan internal kabinet sampai ke telinga anggota DPR. Mereka pun mempertanyakan sikap Rizal Ramli yang kerap membuat gaduh Kabinet Kerja.
"Kenapa sih bapak senang bikin gaduh?" kata salah seorang anggota Banggar DPR RI saat rapat RAPBN 2016 di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9).
Rizal Ramli menjawab santai. Dia mengatakan kegaduhan yang dibuatnya bukan kegaduhan biasa. "Saya bukan gaduh biasa. Gaduh saya ada isinya, tidak gaduh hanya di kulitnya saja. Kalau gaduh hanya di kulitnya saja itu adalah infotainment. Saya enggak tertarik dengan infotainment," kata Rizal.
Meski demikian, Rizal mengaku tidak sama sekali berniat membuat gaduh kabinet. Dia mengklaim hanya berniat mengungkap kebenaran dan fakta yang dilihatnya.
"Daripada kita diam-diam saja ternyata di dalamnya KKN, mendingan kita ungkap fakta saja," papar Rizal.
Mantan Menko Perekonomian era Gus Dur ini menilai kegaduhan yang terjadi belakangan ini sebenarnya justru menarik investor.
"Investor juga senang kalau ada gaduh karena berarti kita terbuka. Kalau ada yang bilang gaduh-gaduh investor tidak jadi datang, saya pikir itu cara pandang kuno, cara pandang Orde Baru," tegas Rizal.