Membongkar strategi jual beli mobil mewah berharga miliaran Rupiah

Lebih mudah menjual kendaraan super mewah ini ke orang awam dibanding menyasar yang paham seluk beluk mobil mewah.

Angga Yudha Pratomo
Oleh Angga Yudha Pratomo - Reporter
Membongkar strategi jual beli mobil mewah berharga miliaran Rupiah
Model cantik di GIIAS 2015. ©2015 merdeka.com/mitra ramadhan

Strategi penjualan kendaraan mewah kelas premium alias mobil mewah di Indonesia, tidak bisa disamakan dengan trik menjual kendaraan biasa. Misalnya, dengan banderol harga Rp 9 miliar per unit untuk Ferrari California, tentu butuh usaha ekstra keras meyakinkan orang membeli kendaraan super cepat ini.

Apalagi di tengah kondisi saat ini, ekonomi nasional tumbuh melambat dan membuat orang cenderung menabung daripada belanja. Belum lagi kondisi nilai tukar Rupiah yang dari hari ke hari semakin memprihatinkan. Otomatis berdampak pada lesunya penjualan mobil mewah.

Rendahnya penjualan di semester I-2015 sudah pasti terjadi pada mobil kelas premium. Dilansir Otosia.com, penurunan pasar otomotif di paruh pertama tahun ini terjadi pada mobil super cepat, Lamborghini. Bahkan produsen mobil berlambang banteng ini pernah menyatakan penurunan pasar mencapai 80 persen.

Menyiasati ini, Lamborghini pasang strategi dengan lebih banyak menjual mobil bekas. Terbukti, sampai saat ini pembeli Lamborghini yang menggunakan leasing tercatat mencapai 40 persen.

Gambaran di atas menunjukkan perlunya strategi jitu dalam penjualan mobil mewah di tengah kondisi ekonomi yang tidak berpihak. Ajang pameran otomotif tahunan seperti Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) atau Gaikindo Indonesia Internasional Air Show (GIIAS) tidak cukup ampuh mendongkrak minat masyarakat membeli mobil mewah.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Perlu ada strategi lain yang lebih tepat sasaran. Apalagi kalau bukan mendekati komunitas penggemar mobil mewah yang belakangan ini makin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Langkah pendekatan itu dianggap lebih jitu untuk memasarkan mobil super mahal.

"Strategi biasanya kita dari relasi, berkembang lewat acara atau komunitas," kata Secretary The Djakarta Auto, Ambar saat berbincang dengan merdeka.com, akhir pekan lalu.

Ambar mengakui lesunya penjualan mobil mewah. Dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun ini, pihaknya baru bisa menjual 27 unit mobil mewah dari pelbagai merek. Mulai dari Ferrari, Bentley, Lamborghini dan lainnya. Namun dia tidak memaparkan lebih detail angka penjualan untuk masing-masing merek mobil mewah. "Kalau bagi kita Itu sedikit. Biasanya kita bisa banyak (jual mobil mewah)," ungkapnya.

Rendahnya penjualan juga disebabkan kurang ampuhnya strategi pemasaran. Sebab, kata dia, tidak bisa disamakan dengan strategi pemasaran penjualan mobil biasa. "Kalau premium gini kita susah-susah gampang," keluhnya.

Dia blak-blakan menuturkan, lebih mudah menjual kendaraan super mewah ini ke masyarakat awam dibanding menyasar orang-orang yang paham seluk beluk mobil kelas premium. "Kalau orang awam itu kan bisa kenal dan tahu dari temen atau ikut perkumpulan dulu," terangnya.

Rekomendasi