Tiga hari lalu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melansir temuan dan hasil uji laboratorium terhadap pembalut wanita dan pantyliner. Di mana terdapat sembilan merek pembalut dan tujuh merek pantyliner mengandung klorin dengan kadar sangat tinggi. Rata-rata 06-55 ppm (untuk pembalut).
YLKI mendalilkan klorin berbahaya bagi kesehatan reproduksi perempuan lantaran bersifat iritatif bahkan karsinogenik. Namun Kemenkes menyatakan sebaliknya, klorin pada pembalut aman dan tidak karsinogenik.
YLKI menyayangkan sikap Kemenkes. Apalagi YLKI mengaku sebelumnya telah meminta konfirmasi Kemenkes terkait temuan dan hasil lab tersebut
"YLKI telah mengirimkan surat konfirmasi sejak 6 April 2015. Tetapi hingga hasil penelitiannya dilaunching (6 Juli 2015), Kemenkes tidak memberikan tanggapan/respons apapun terhadap surat dimaksud," ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi melalui keterangan tertulisnya, Kamis (9/7).
Tulus Abadi heran dengan ketidakkonsistenan Kemenkes. Sebab, dalam Permenkes No. 472 Tahun 1996 tentang pengamanan dan pengawasan bahan berbahaya, salah satunya menyinggung klorin. Dalam Permenkes tersebut memang tidak disebutkan bahwa klorin berbahaya jika dikonsumsi (ditelan ke mulut), tetapi secara tegas disebutkan bahwa berbahaya secara umum dalam penggunaannya mengingat klorin masuk kategori bahan beracun dan iritatif.
"Jadi pernyataan Kemenkes bahwa klorin pada pembalut adalah aman, justru bertentangan dengan regulasi yang dibuat Kemenkes itu sendiri. Kemenkes tidak konsisten dan menabrak aturan yang dibuatnya," tegas Tulus Abadi.
Dia menyatakan, sebagai bahan beracun dan iritatif, ada batas maksimum saat digunakan untuk bisa dinyatakan aman. Kemenkes justru menyatakan pembalut berklorin aman tanpa batas.
"Aneh bin ajaib! Ini menandakan Kemenkes terlalu melindungi kepentingan industri pembalut, dan abai terhadap kesehatan publik, abai terhadap kesehatan konsumen sebagai pengguna pembalut,"
Dia menambahkan, banyak dokter kandungan (ginekolog) secara tegas menyatakan klorin dalam pembalut wanita berbahaya bagi kandungan dan alat reproduksi perempuan. Klorin bagi alat reproduksi perempuan bukan hanya bisa menimbulkan gatal-gatal, iritatif, tetapi juga bisa menimbulkan infertilitas (kemandulan) dan bahkan karsinogenik;
Saat ini, pembalut nyaris menjadi kebutuhan pokok perempuan. Dari sekitar 118 juta perempuan di Indonesia, 67 jutaan masuk kategori wanita subur (masih menstruasi dan pengguna pembalut), maka diperkirakan tak kurang dari 1,4 miliar pembalut/per bulan yang digunakan perempuan Indonesia.