AirAsia disebut butuh Rp 25,2 triliun untuk bayar utang

AirAsia bersama anak usahanya di Indonesia dan Filipina dituding melakukan kecurangan dalam penghitungan akuntansi.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
AirAsia disebut butuh Rp 25,2 triliun untuk bayar utang
Air Asia. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

Perusahaan riset akuntansi yang berbasis di Hong Kong, GMT Research menyebut maskapai AirAsia Group membutuhkan dana USD 1,9 miliar atau setara Rp 25,2 triliun untuk membayar utang. Pernyataan ini dikeluarkan setelah sebelumnya GMT mempertanyakan praktik akuntansi maskapai milik Tony Fernandes tersebut.

GMT menuding AirAsia bersama anak usahanya di Indonesia dan Filipina melakukan kecurangan dalam penghitungan akuntansi untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

"AirAsia mungkin anjing baru tapi mereka memainkan trik yang sangat lama atau trik tua," kata GMT dalam laporannya seperti dikutip dari CNBC di Jakarta, Rabu (24/6). Perusahaan riset ini menuduh AirAsia melakukan transaksi uang dengan anak usaha di Indonesia dan Filipina untuk meningkatkan arus kas induk usaha.

Dengan kondisi ini, GMT memperkirakan AirAsia Group membutuhkan USD 1,9 miliar menutupi utang-utangnya. GMT menyarankan kepada AirAsia untuk segera menjual sahamnya.

Namun demikian, AirAsia belum menanggapi tudingan yang dilontarkan perusahaan riset akuntansi tersebut.

Saham AirAsia bereaksi atas tudingan GMT tersebut. Nilai saham turun lebih dari 26 persen sejak awal Juni lalu. Bahkan nilai saham menyentuh titik terendah sejak 2011 silam.

Sebelumnya, GMT Research menuding AirAsia bersama perusahaan rekanannya dan anak usahanya melakukan kecurangan dalam penghitungan akuntansi untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

Dilansir dari reuters, laporan yang dikeluarkan 10 Juni lalu ini membuat saham maskapai penerbangan berbiaya murah ini anjlok 14 persen. "Kami sedang diskusi dengan perusahaan tentang masalah ini," ucap Pendiri GMT Gillem Tulloch dalam pernyataannya yang dilansir merdeka.com dari reuters di Jakarta, Selasa (16/6).

CEO AirAsia, Tony Fernandes akhirnya menulis surat kepada investor untuk menanggapi laporan dari GMT Research yang mempertanyakan laporan akuntansi perusahaan. Dia mengatakan akan menggalang dana dan mungkin menjual pesawat untuk mengurangi utang perusahaan.

Menanggapi turunnya harga saham perusahaan, Tony mengatakan akan menerbitkan obligasi senilai USD 150 juta di Filipina dan Indonesia. Tony dalam suratnya juga menegaskan bahwa perusahaan juga dapat menjual atau menyewakan kembali 20 pesawat tahun ini.

Rekomendasi