Mendengar kata biro jodoh, tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Mereka lahir dan menyatakan diri sebagai 'juru selamat' bagi kaum tuna asmara atau belum memiliki pasangan alias jomblo.
Sejauh ini belum ada data valid mengenai jumlah tuna asmara di Indonesia. Namun yang pasti, seperti bisnis lainnya, biro jodoh akan tetap eksis selama masih ada pasar atau kelompok orang yang membutuhkan bantuan untuk mencari belahan jiwanya.
Seperti di negara lain, bagi sebagian orang, biro jodoh kerap menjadi solusi dari persoalan sulitnya mendapatkan pasangan karena alasan kesibukan atau ketidakcocokan dengan yang pernah dijalani.
Bisnis biro jodoh pun semakin berkembang mengikuti perputaran roda zaman. Dulu, mereka yang membutuhkan jasa 'mak comblang' harus datang langsung ke tempatnya. Namun kini, seiring perkembangan teknologi, bantuan asmara ini bisa dilakukan dari jarak jauh. Dikenal dengan biro jodoh online alias match making.
Bisnis biro jodoh online semakin bergerak luas dengan dukungan jumlah pengguna internet yang tinggi di dalam negeri. Razi Thalib melihat peluang itu untuk kemudian membidani lahirnya setipe.com, salah satu bisnis 'mak comblang' online.
"Kami hadir sejak Oktober 2013 lalu, mulai match making Januari 2014," ujar Razi saat berbincang dengan merdeka.com di Jakarta, Jumat (19/6).
Berangkat dari modal memahami seluk beluk dunia teknologi informasi ditambah kejelian melihat perlunya jembatan penghubung asmara antar manusia, Riza pun mulai menjalani bisnis mak comblang modern ini.
"Marketnya ada karena pasangan hidup itu sebuah kebutuhan dan kegiatan itu akan terus ada. Untuk itu kami bikin mak comblang versi online," jelas dia.
Advertisement
Langkahnya di bisnis ini makin mantap sejurus pertumbuhan klien setipe.com. Dalam setahun, situs mak comblang online yang baru mengarungi jagat internet itu memiliki 400.000 member. Usia kliennya beragam, 25-40 tahun. Dari jumlah tersebut, 55 persennya lelaki dan sisanya 45 persen perempuan.
"Setiap bulan member kami bertambah sekitar 10 sampai 15 persen," ucapnya.
Dia mengaku sudah cukup berhasil menjadi agen penyelamat bagi mereka yang kesulitan menemukan pasangan yang sejalan. "Sudah ada 17 pasangan yang melangsungkan bertunangan dan menikah."
Bisnis serupa dijalani Bambang Ariyanto. Namun baru menginjak usia tiga bulan. Dia meninggalkan pekerjaannya di bidang konsultan yang sudah dijalani selama dua tahun terhitung 2011-2013. Bersama rekan-rekannya, Bambang mulai membangun bisnis berlabel terapi komunikasi bawah sadar di Surabaya.
"Dari bisnis tersebut bermacam-macam salah satunya bisnis biro jodoh," jelas dia.
Diakuinya, bisnis ini terkesan aneh dan tabu. Alasannya, bagi sebagian orang, biro jodoh online dianggap main-main. Namun dia masih meyakini bisnis mak comblang modern ini bakal menarik banyak jomblo. Bambang yang sekaligus menjadi konsultan jodoh ini menuturkan, rata-rata kliennya mengeluhkan trauma ingin menikah.
"Ada sekitar 10 sampai 15 orang member kami, sampai sekarang sekitar 221 orang dan 85 persen mayoritas laki-laki dengan umur 23-35 tahun," ungkapnya.
Bambang menjelaskan bisnis yang dijalaninya ini memang menitikberatkan dan membidik pasangan yang ingin menikah, bukan sekadar pacaran.
"Kami lebih mengembangkan aplikasi bersifat sosial, karena kan membantu untuk menjodohkan dijanjikan istana surga," tutup Bambang.