Kurs mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) kian merosot. Bahkan, kini Rupiah berada menginjak di level Rp 13.198 yang merupakan titik terlemah selama beberapa tahun terakhir.Terkait hal itu, Ekonom Didik Junaidi Rachbini memperingatkan agar Pemerintah tidak meremehkan Rupiah yang semakin hari kian anjlok."Tidak boleh main-main. Jangan hanya bilang aman saja tanpa melakukan tindakan apa-apa," tegas Didik di Menara Kadin, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (13/3).Pasalnya, Didik menilai anjloknya Rupiah disebabkan permasalahan yang bersifat struktural dan harus segera dibenahi satu demi satu."Masalahnya bersifat struktural. Kita ini sekarang relatif tidak bergoyang kencang, karena masih ada modal portfolio yang masuk ke kita," jelasnya.Secara garis besar, Didik pun menjabarkan permasalahan struktural yang tengah terjadi seperti minusnya transaksi berjalan. "Ekspor barang kita enggak cukup untuk (menutupi) impor barang," tuturnya.Penyebab defisitnya neraca perdagangan, lanjut Didik, diperparah lantaran Pemerintah kerap mengekspor bahan mentah. Selain itu pula, industri nasional juga saat ini tengah mati suri."Dan bahan mentah itu, apakah kakao, batu bara, sawit itu turun harganya di pasar Nasional. Karena itu kita harus mencoba mengatasi masalah ekspor ini," ungkapnya."Impor kita banyak karena industri kita mati dan banyak berguncang. Kita tidak punya kebijakan industri yang cukup," tambahnya.Dari deretan permasalahan tersebut, Didik pun kembali memberikan peringatan keras kepada pemerintah untuk tidak main-main dalam menyikapi Rupiah yang anjlok."Kita harus ingatkan pemerintah supaya enggak main-main. Jangan dikira bahwa ini aman," tegasnya.
Ekonom: Rupiah melemah, pemerintah jangan hanya bilang aman saja
"Kita harus ingatkan pemerintah supaya enggak main-main. Jangan dikira bahwa ini aman."
Rekomendasi